Sunday, April 27, 2008

Deny Delyandri Owner Oleh-Oleh Khas Batam : Kek Pisang Villa

Berbisnis harus Belajar dan kerja keras

Deny Delyandri pemuda berusia 28 tahun, Ayah dari 2 orang putra dan putri yang lahir di Magelang dari kedua orang tua yang asli berasal dari Padang. Anak sulung dari dua bersaudara dari seorang Ibu yang berprofesi sebagai Guru dan ayah karyawan BUMN. Pria yang berlatar belakang pendidikan dari S1 Teknik Elektro Universitas Andalas, memulai karirnya sebagai karyawan sebuah PMA di Batam setelah menjadi Sarjana.

Ketika menjadi karyawan swasta inilah kiprah bisnisnya dimulai pada tahun 2004. Terpicu dari kondisi perusahaan yang sedang turun kapasitas produksinya, sehingga banyak waktu luang sepulang kerja karena tidak ada lembur. Maka Deny mempunyai keinginan untuk menambah penghasilan dari usaha sampingan. Ide ini ternyata mendapat dukungan penuh sang istri yang mempunyai hobi memasak. Kemudian lahirlah bisnis pertamanya yakni Usaha Krupuk Udang Aloha. Krupuk yang bahan bakunya dibeli dari pasar tradisional itu kemudian digoreng oleh sang istri. Setelah digoreng krupuk itu dibungkus dalam plastik kemudian dipres dengan api dari lampu minyak tanah. Pekerjaan ini dikerjakan setiap hari sepulang kerja. Kemudian kerupuk yang sudah dibungkusi disusun dalam keranjang, dengan menggunakan sepeda motor Deni setiap pagi mengantarkan krupuk-krupuk itu ke warung-warung dan rumah makan padang sambil berangkat kerja. Dari hasil memproduksi krupuk udang ini Deni bisa mendapatkan penghasilan tambahan selain dari gaji di perusahaan tempatnya bekerja.

Dikarenakan kondisi istrinya yang mulai hamil muda, Deni berusaha mencari saudara untuk membantunya menjalankan usaha krupuk udangnya. Ternyata mencari tenaga kerja dari kerabatnya tidak berhasil didapatkan, sedangkan Deni sendiri masih bekerja sebagai karyawan swasta sehingga tidak bisa membantu istri sepenuhnya, karena sebagian besar waktunya tersita untuk pekerjaan kantor, dan kondisi kehamilan istrinya semakin membesar maka usaha krupuk udang tersebut terpaksa ditutup setelah 3 bulan berjalan.

Bisnis sambilan kedua yang dijalani oleh Deni dan istrinya adalah membuat kue klepon. Bisnis kue klepon ini disuplai ke kantin-kantin perusahaan di perusahaan-perusahaan di kawasan industri Muka Kuning. Tetapi dikarenakan usaha yang dilakukan tidak sebanding dengan keuntungan yang didapatkan, akhirnya bisnis kue klepon ini pun berhenti ditengah jalan.

Setelah dua kali mengalami kegagalan dalam berbisnis, tidak menyurutkan langkah Deni untuk mempunyai usaha sendiri dan menjadi pengusaha. Selanjutnya Deni membuat bisnis rumah makan Padang, berkat pinjaman dari koperasi tempat dia bekerja sebesar 10 juta rupiah, rumah makan Padang itu pun berjalan. Untuk menjalankan rumah makan Padang ini Deni merekrut koki dan karyawan dengan sistem bagi hasil. Tetapi dikarenakan kurangnya pengalaman dalam bisnis rumah makan dan lokasi rumah makan yang kurang strategis, akhirnya rumah makan ini pun tutup dan peralatannya dijual dengan harga murah untuk mengurangi kerugian.

Semangat Deni untuk menjadi pengusaha tidak mengendor walaupun kegagalan demi kegagalan menghantamnya. Deni semakin giat belajar dan mencari informasi mengenai dunia usaha, mulai dari membaca media-media bisnis, buku-buku motivasi dan juga CD-CD seminar kewirausahaan. Pada saat-saat pencariannya itulah Deni menemukan buku “Rich Dad, Poor Dad” nya Robert T Kiyosaki, karena provokasi buku inilah Deni semakin giat mencari ide dan peluang usaha.

Ketika sedang mencari-cari peluang usaha yang baru ini, Deni menonton CD seminarnya James Gwee dan Rhenald Kasali. Dilihat begitu banyak peserta yang menghadiri seminarnya para motivator itu. Dari situlah terbersit ide untuk menjadi penyelenggara seminarnya para motivator ulung Indonesia atau Event Organizer (EO). Meskipun belum punya pengalaman sama sekali di bidang per-EO-an. Deni bertekad mengadakan satu seminar wirausaha dari tokoh terkemuka Indonesia. Atas nasehat dari salah satu rekannya Deni disarankan untuk menghubungi Pak Jaya Setiabudi salah seorang pengusaha dan motivator di Batam. Setelah berkenalan dengan Pak Jaya Setiabudi dan berkonsultasi akhirnya ditetapkan untuk mengundang Helmi Yahya dan Made Bagiana “Edam Burger”.

Namun dikarenakan kurangnya pengalaman dan persiapan untuk menggelar seminar ini, ditambah lagi kurangnya promosi yang dilakukan, mengakibatkan peserta yang mengikuti seminar ini tidak sesuai dengan yang ditargetkan walaupun sudah dibantu sepenuhnya oleh tim Momentum nya Pak Jaya Setiabudi.

Hasil dari bisnis EO ini pun meninggalkan kerugian yang cukup besar untuk ukuran Deni, sehingga terpaksa Mobil taksi yang dibeli secara kredit dan hampir lunas pun di re-finance untuk membayar hutang-hutang dari seminar diatas. Namun pengalaman menjadi EO itu merupakan pelajaran yang sangat berharga bagi Deni diwaktu berikutnya. Dan Ia pun memantapkan diri untuk keluar dari tempat kerjanya karena memang hati dan pikirannya sudah terkonsentrasi untuk menjadi pengusaha. Sehingga dia memilih untuk keluar kerja daripada dia melaksanakan tanggung jawabnya di kantor tidak sepenuh hati.

Dengan kondisi tidak mempunyai pekerjaan, harus mencicil hutang mobil yang di re-finance dan juga harus menghidupi istri dan bayinya yang baru lahir. Maka Deni memberanikan diri untuk memasukkan proposal untuk menjadi EO di salah satu mall terbesar di Batam. Gayung pun bersambut pihak mall menerima dan Deni pun memulai usaha pertamanya sebagai EO setelah keluar dari pekerjaan di kantor. Dan kesuksesan pun menghampiri Deni setelah berkali-kali gagal tapi dengan gigih Ia pun tetap melangkah menyongsong keberhasilan. Kegagalan dianggapnya sebagai proses pembelajaran diri untuk menjadi orang yang kuat dan tidak mudah menyerah. Setelah itu Deni mulai membuka usaha yang baru lagi yaitu membuka E-Course sebuah lembaga pelatihan kewirausahaan bagi orang-orang yang ingin terjun sebagai wirausahawan.

Disaat yang bersamaan pun istri Deni yang mempunyai hobi masak-memasak. bereksperimen untuk berbisnis kue. Terispirasi dari bisnis brownies milik temannya, Istri Deni pun membuat resep spesial Kek Pisang yang dikemas dan dimodifikasi dari kue brownies. Dengan pengepakan yang menarik dan pemberian merek “Kek Pisang Villa” membuat produknya terlihat spesial. Ketika bisnis kek pisangnya mulai meningkat maka Deni pun melepaskan E-course untuk berkonsentrasi mengembangkan usaha kek pisang Villanya.

Strategi marketing yang dilakukan untuk meningkatkan penjualan kek pisang Villa adalah dengan cara merekrut mitra-mitra sebagai distributor. Kondisi masyarakat Batam yang sebagian besar adalah pekerja di industri maka mitra-mitra pun direkrut dari setiap perusahaan yang ada di Batam. Mitra yang juga karyawan di perusahaan itu bertugas untuk mencari pembeli dilingkungan perusahaan kemudian menginformasikan pesanannya kepada Deni melalui SMS, Kemudian Deni akan mengantarkan pesanan perusahaan tempat para mitranya bekerja. Sebuah strategi marketing yang sangat efektif dan saling menguntungkan antara Deni dan mitra-mitranya. Mitra akan mendapat keuntungan dari selisih harga jual ke konsumen dengan harga dari Deni, yang rata-rata keuntungan yang didapatkan mitra sebesar 3 ribu rupiah per kue yang terjual.

Selain tetap menjalankan bisnisnya Deni tetap menimba ilmu, terus belajar dan juga tidak kalah penting adalah bergabung dengan komunitas para pengusaha baik secara offline dan online untuk memperluas jaringan, sehingga dia cukup banyak mengenal pengusaha-pengusaha sukses di Batam dan luar Batam. Ini sangat berarti untuk membuka wawasannya dalam berbisnis. Selain itu dia selalu ikut memamerkan produk kek pisang Villa disetiap acara yang diselenggarakan oleh komunitas pengusaha yang diikutinya, sehingga produknya pun semakin dikenal.

Seiring semakin berkembangnya bisnis Kek Pisang Villa, Deni mulai menambah investasi untuk peralatan produksi untuk membuat Kek Pisang mulai dari Oven, mixer dan peralatan lainnya sehingga kapasitas produksinya semakin meningkat. Jumlah karyawan pun semakin bertambah, yang bisa membuka lapangan pekerjaan bagi orang-orang disekitarnya. Dari segi keunikan rasa tetap dipertahankan walaupun volume produksinya semakin meningkat, sehingga konsumen tidak kecewa. Dan untuk memanjakan konsumen Deni dan Istri selalu bereksperimen untuk menciptakan rasa dan resep baru ,sehingga dengan lebih banyak inovasi produknya membuat konsumen mempunyai banyak pilihan rasa. Dari yang sebelumnya hanya 6 rasa, saat ini sudah tercipta 12 aneka rasa kek pisang yang sangat lezat. Kini Kek Pisang Villa mempunyai 20-an karyawan dengan omzet lebih dari 75 juta rupiah per bulannya.

Dari awal memulai bisnis Deni sudah membuat laporan keuangan bisnisnya dengan teratur dan tertib. Semua transaksi bisnisnya selalu dilengkapi dengan nota baik pembelian maupun penjualan sehingga mempermudah dia dalam membuat laporan keuangannya. Dari laporan keuangan bisnisnya dan transaksi rekening koran di Bank yang teratur akhirnya bisnisnya dipercaya oleh Bank untuk mengucurkan kredit ke dalam usaha Kek Pisangnya. Berawal dari perkenalan dengan salah satu kepala cabang salah satu bank swasta di Batam di suatu acara dalam komunitas yang diikutinya, bank tersebut mengucurkan kredit sebesar 40 juta rupiah, tanpa agunan hanya dengan menampilkan prospek bisnis yang bagus dan laporan usaha yang teratur dan tertib. Untuk mendapatkan kepercayaan dari Bank ini Deni memberikan saran agar selalu membuat laporan bisnis secara tertib dan teratur serta meningkatkan performa transaksi di bank sehingga rekening koran bank kita terlihat aktif. Dan satu lagi berusaha untuk memperkenalkan usaha kita ke bank, maka pihak bank akan lebih mempercayai bisnis kita, yang nantinya akan menimbulkan kepercayaan dari bank untuk mengucurkan kreditnya.

Setelah mendapatkan kredit dari bank, Deni memindahkan bisnisnya dari rumah dengan menyewa sebuah ruko yang berada di pinggir jalan raya yang ramai lalu-lintasnya. Sehingga bisnisnya semakin dikenal karena penampilan billboard yang dipasang ditempat usahanya yang baru bisa dilihat oleh banyak orang. Selain itu Ia membuat armada pesan layan gratis dengan dua kendaraan bermotor yang didisain dengan menarik dan menjadi media promosi berjalan yang sangat efektif. Strategi marketing yang dilakukan Kek Pisang Villa untuk memperluas pasar dilakukan dengan berbagai cara, diantaranya dengan melalui promosi dan iklan, seperti membuat billboard di tempat-tempat strategis, seperti jalan ke bandara udara, di pusat kota dan simpang jalan yang padat lalu lintasnya. Berkat hubungan baiknya dengan berbagai pihak, Kek pisang Villa pun diliput oleh media cetak di Batam dan juga media elektronik, TV lokal dan TV nasional. Hal ini merupakan daya ungkit yang sangat berarti untuk membuat bisnisnya semakin berkibar. Beriklan dengan menempelkan gambar produknya di angkutan umum di Batam pun dilakukan. Dan tak kalah penting adalah berpromosi di dunia maya seperti membuat website ( http//Oleh-OlehKhasBatam.com dan http//Oleh-OlehKhasBatam.Blogspot.com) serta mailing list, sehingga produk Kek Pisang Villa bisa dilihat dan dikenal oleh seluruh dunia.

Strategi bisnis yang dilakukan oleh Deni untuk memenangkan kompetisi dengan pesaing-pesaingnya adalah dengan cara, selalu mempertahankan resep dan rasa kuenya agar selalu khas dan unik, tidak berubah walaupun volume produksinya semakin meningkat. Selain itu packaging yang “eye catching” dibuat untuk menarik konsumen.

Didasari oleh latar belakang kota Batam sebagai daerah industri, wisata dan kota konferensi internasional (MICE) maka Deni berusaha memposisikan produknya sebagai Oleh-Oleh Khas Batam. Untuk menyambut program pemerintah kota Batam “Visit Batam Year 2010” Deni menghubungi dan bekerjasama dengan Dinas Pariwisata kota Batam agar Oleh-Oleh Khas Batam Kek Pisang Villa menjadi salah satu ikon kota Batam. Untuk menjadi salah satu ikon pariwisata kota Batam inilah Kek Pisang Villa membuka cabang lagi di pusat pemerintahan yakni Batam Center agar lebih mudah dijangkau oleh para wisatawan. Dengan memposisikan Kek Pisang Villa sebagai Oleh-Oleh Khas Batam akan memperkuat bisnisnya menjadi salah satu brand dari kota Batam yang nantinya akan dipromosikan ke seluruh Indonesia bahkan dunia.

Kalau Saja Semua Pihak Mengerti

Pujasera Kawasan Industri Muka Kuning Batam dipenuhi oleh ratusan karyawan yang sedan beristirahat setelah setengah harian bekerja. Ada yang memang makan siang dan tak sedikit pula yang hanya duduk-duduk bersama teman-temannya melepaskan kepenatan dan kejenuhan dari aktifitas pekerjaan yang membuat semua oran tertekan. Sambil minum Kopi "O" atau Kopi "Obeng sambil bersenda gurau cukuplah untuk meringankan beban dan tekanan dari pekerjaan pabrik.

Diantara riuh rendahnya percakapan para karyawan pabrik itu terlihat seorang anak berumur 10-an tahun berjalan dari meja ke meja. Ditangan kirinya ada setumpuk koran, sedang tangan kanannya menggengam satu koran sambil menawarkannya ke setiap kumpulan orang-orang yang sedang asyik ngobrol dan bersenda gurau. Akhirnya anak itu sampai juga di meja tempatku sedang mengopi bersama temanku yang sedang asyik membahas masalah IHSG yang sedang terjun bebas akibat harga minyak dan pangan dunia yang melambung serta kasus subprime mortgage yang menyeret negara adidaya ke dalam resesi ekonomi, sehingga efeknya investasi kami direksadana pun ikut tergerus.
"Koran Om", anak itu mulai menawarkan korannya dengan wajah penuh harap.
"Berapa?' temanku Andrias sepertinya kasihan melihat anak penjual koran itu.
"Seribu saja, Om". mata anak itu mulai berbinar.
"Dik, kamu nggak sekolah?", Aku penasaran, anak seumur dia seharusnya jam segini masih di sekolah.
"Nggak Om", Jawab anak itu tanpa ekspresi.
"Kenapa kok nggak sekolah?", pertanyaanku sepertinya membuat anak itu tak nyaman dan mulai malu.
"Nggak ada biaya, Om", jawab anak itu sambil cepat-cepat meninggalkan meja kami setelah mendapatkan lembaran uang 1000 dari Andrias.

Aku terhenyak oleh jawaban anak itu. Andai saja janji calon bupati dan calon gubernur yang katanya akan membuat pendidikan gratis benar-benar dilakukan. seharusnya anak penjual koran itu tidak berkeliling menjajakan koran di jam sekolah. Ternyata gratis menurut pemerintah adalah SPP nya saja yang gratis, Yang ternyata hanya senilai 8000 rupiah saja. Tapi selain uang SPP masih banyak lagi yang harus dibayarkan mulai dari buku-buku pelajaran, LKS, kegiatan ekstrakurikuler, Les, seragam sekolah yang bermacam-macam motifnya belum lagi ada iuran komite. Dulu ketika saya masih sekolah selalu berburu buku-buku bekas kakak kelas setiap habis penerimaan rapor kenaikan kelas. karena dahulu buku-buku pelajaran masih bisa dipakai hingga bertahun-tahun berikutnya. Sedangkan sekarang buku-buku pelajaran sekolah selalu berganti tiap tahun dan terkadang harus dibeli ditempat murid itu sekolah. Lucunya lagi, sekarang ini banyak guru-guru yang bertindak sebagai penjual buku pelajaran. Ini tentu saja sangat memberatkan keluarga miskin. Jangankan untuk membayar aneka macam atribut sekolah diatas. Sedangkan untuk bisa makan dengan tahu dan tempe dihari ini saja sudah sangat berat bagi mereka.

Dan kalau saja seluruh masyarakat Indonesia mempunyai kesadaran bahwa anak-anak miskin seperti diatas adalah juga tanggung jawab kita untuk memberdayakan mereka mungkin hal itu akan menjadi jauh lebih baik dibandingkan bila kita hanya menyalahkan pemerintah yang kurang begini dan begitu. Bahwa sebenarnya sudah banyak wadah yang bisa kita pakai sebagai saluran tempat kita untuk membantu memberdayakan saudara kita yang kurang beruntung tersebut, seperti halnya sudah di perintah dalam agama Islam untuk menzakatkan sebagian hartanya minimal 2.5% bila sudah masuk nishafnya. Belum lagi begitu banyak yayasan Yatim piatu, yayasan sosial, ada lagi infaq by request , Gerakan Orang tua Asuh, sampai dengan orang tua asuh by request. Sangat banyak bukan yang sebenarnya bisa dilakukan dari pada sekedar menyalahkan pemerintah yang tidak becus ini dan itu. Dan ada satu lagi tindakan yang seharusnya sangat mudah dilakukan, Jangan pernah memberikan sedekah kepada peminta-minta, pengamen atau apapun itu yang selalu mengharapkan belas kasihan. Karena bila kita memberikan pertolongan dalam bentuk itu, sesungguhnya kita bukan menolong mereka tetapi semakin menjerumuskan mereka kedalam jurang kemalasan, kemanjaan dan semakin terkungkung didalam ketidakmampuannya.

Dan kalau saja setiap orang yang ada dalam kondisi terpinggirkan, terbelenggu dalam kemiskinan dan ketidakmampuannya yang lain, selalu masih punya semangat dan kemauan untuk selalu bangkit dari keterpurukan hidupnya. Seandainya mereka sadar bahwa hidupnya yang sekarang bukan sebuah guratan nasib untuk selamanya. Jikalau mereka tetap berpikir positif bahwa itu hanyalah sebuah proses yang harus dijalani dan bukan sebuah harga mati sehingga mereka tetap selalu belajar dan berusaha untuk membalikan kondisi hidup yang papa menjadi kehidupan yang lebih baik. Karena belajar tidak selalu dalam dunia formal tapi kita juga bisa belajar dari pengalaman dan jalan hidup yang kita lalui dan selalu berusaha untuk menjadikan saat ini harus lebih baik dari kemarin, serta hari esok lebih baik dari saat ini. Dan selalu berusaha mandiri untuk tidak hanya menggantungkan dari belas kasih dan pertolongan orang lain, tidak selalu mengharapkan pemerintah untuk membuat kebijakan yangi bisa mengankat kemiskinannya. Serta selalu berpikir bahwa kehidupannya adalah tanggung jawabnya sehingga sadar yang bisa merubah hanya diri mereka sendiri.
MAKA.........suatu saat nanti kita tidak akan lagi melihat pemandangan yang sekarang ini banyak terpampang disekitar kita. Sehingga kita akan lebih bangga lagi mengatakan bahwa ini adalah INDONESIA.

Memperbaiki Jeda Waktu Menuliskan Hasil Imajinasi

Mentransfer imajinasi ke dalam bentuk tulisan ternyata tidak semudah yang dibayangkan. Saya mengalami ini ketika menuliskan hasil imajinasi ke dalam bentuk tulisan yang sudah beberapa waktu ini saya lakukan. Pada saat berimajinasi mengenai sebuah jalinan cerita seakan cerita yang tersusun begitu lancar mengalir tanpa hambatan. Berimajinasi atau berkhayal ini biasanya saya lakukan disaat senggang yaitu sepulang kerja atau menjelang tidur. Hal ini kulakukan sambil tiduran dikamar, mata menerawang dan mengalirlah susunan cerita yang saya buat itu seperti air dan saya sangat menikmati saat-saat seperti ini.

Beberapa waktu terakhir ini saya terpacu untuk menuliskan hasil imajinasiku ke dalam bentuk tulisan. Hal ini terpicu karena begitu banyak hasil karya anak negeri ini begitu dihargai oleh masyarakat. Ini mungkin dikarenakan mulai meningkatnya minat baca dan rasa menghargai karya anak bangsa oleh masyarakat Indonesia. Sehingga tak ayal lagi sekarang begitu banyak orang mencari hasil karya seni yang bermutu. Mulai dari Seni musik hingga karya sastra dan seni peran. Efek dari semua itu pun semakin banyak wajah-wajah jutawan baru bermunculan diseantero negeri ini. Kehidupan seorang seniman yang dulu dipandang sebelah mata dari sisi ekonomi sekarang berubah 180o. Kehidupan ekonomi seorang seniman yang berhasil bisa jadi lebih makmur dibandingkan seorang direktur sekalipun.

Kesulitan memindahkan hasil imajinasi kedalam karya tulis dikarenakan ada media yang harus dijalankan ketika mentransfer imajinasi itu, yaitu alat tulis atau keyboard komputer. Ini artinya ada dua langkah yang harus dilakukan,pertama berimajinasi dan yang kedua menuliskan hasil imajinasi. Pada saat menuliskan imajinasi itulah ada jeda waktu. Nah jeda waktu ini yang membuat buyar konsentrasi saat menulis sehingga terkadang saya mengalami kemacetan dalam penulisan. Untuk mengatasi ini saya biasanya lebih memfokuskan imajinasi dan kadang mengulang-ulang jalinan cerita yang ada didalam angan. Dengan mengulang-ulang imajinasi inilah susunan cerita bisa lebih nempel kedalam ingatan sehingga ketika menuliskannya bisa lebih lancar. Saya selalu mentargetkan untuk menulis minimal satu paragraf. Ini untuk melatih kemampuan menulis dan mempersingkat jeda waktu saat mentransfer hasil imajinasi ke dalam bentu tulisan. Dengan semakin singkatnya jeda waktu itu maka akan semakin baik kemampuan menuliskan imajinasi itu. Sehingga diharapkan suatu saat nanti saya bisa menulis sambil berimajinasi, tidak lagi menuliskan hasil imajinasi.
Wahyudi, 27 Apr 2008

Monday, April 21, 2008

Untuk Eddy Zaqeus : Menulis dari Imajinasi

Hallo Mas Edy Zaqeus,

Salam kenal, Nama saya Wahyudi umur 32 thn, Status sebagai karyawan PMA di Batam. Selain sebagai karyawan saya juga pernah mempunyai beraneka macam usaha sambilan, seperti : Warung kelontong, warung Bakso & Mie ayam, warung tenda pinggir jalan, Usaha busana muslim sampai jualan lontong sayur & pulsa elektrik diteras rumah. Tapi semua usaha sambilan ini belum berhasil, malah sementara ini semuanya masuk pit stop. Sehingga tabungan yang selama ini saya kumpulkan tergerus karena kegagalan itu.

Semua itu saya lakukan karena keinginan untuk mendapatkan kehidupan yang lebih baik dari usaha sendiri, tidak selalu kerja pada orang lain, keinginan untuk bebas secara finansial dan keinginan untuk menolong orang lain membuka lapangan kerja ( saya sempat mempekerjakan 3 karyawan). Usaha sambilan itu saya lakukan mungkin disebabkan oleh provokasi dari buku-buku yang saya baca, Mulai dari Kiyosaki sampai mas Edy sendiri dengan buku Anda "Resep Cespleng Berwirausaha". Tapi saya tetap mencoba untuk berpikir positif bahwa yang sudah saya alami adalah proses pembelajaran yang akan menjadi modal bagi saya untuk meniti masa depan yang lebih baik. Amiin..

Saya tahu Mas Edy Zaqeus dari buku yang saya baca "Resep Cespleng Berwirausaha", yang saya beli diawal-awal saya memulai usaha sambilan. dari situlah saya tahu situs Pembelajar.com. Saya sempat membaca artikel-artikel yang ada di pembelajar.com, tetapi karena kesibukan kerja dan menjalani usaha sambilan akhirnya tidak pernah lagi saya kunjungi situs itu.

Saya mempunyai latar belakang yang kurang menyenangkan dari lingkungan keluarga di masa lalu saya. Hal ini mungkin yang menyebabkan sifat saya menjadi introvert, sering menyendiri dan satu lagi yang sangat parah yaitu suka melamun dan berkhayal atau berimajinasi. Saya suka berimajinasi semenjak saya mulai bisa membaca diawal-awal kelas 1 SD ( saya tidak sekolah TK). Semenjak bisa membaca ini, minat baca saya sangat tinggi. terutama buku-buku sejarah dan buku -buku Fiksi serta buku-buku cerita yang lain. Ada hal yang jelek yang saya lakukan waktu masih SD, banyak buku koleksi perpustakaan sekolah yang saya pinjam tidak saya kembalikan. Hali ini memungkinkan karena memang buku-buku yang dipinjam oleh murid-murid tidak direcord. Karena saat itu kita asal ambil saja buku yang mau dipinjam. Biasanya inspirasi untuk berimajinasi timbul dari buku-buku yang saya baca. Imajinasi berupa jalinan cerita yang saya susun sendiri dalam benak saya. Saya yang jadi sutradara dan biasanya pemeran utamanya saya juga. Dalam satu jalinan cerita yang saya imajinasikan itu biasanya berlangsung berhari-hari bahkan mingguan. Hal ini saya lakukan pada saat tidak ada kerjaan atau waktu menjelang tidur.

Sayangnya imajinasi yang saya lakukan berupa jalinan cerita itu hilang begitu saja setelah ceritanya habis karena saya tidak pernah mengalihkan hasil imajinasi saya ke dalam bentuk tulisan. Andai saja hasil imajinasi saya itu dituliskan mungkin sudah menghasilkan puluhan bahkan ratusan naskah cerita. Bagaimana tidak saya melakukan hal itu dari umur 7 tahun, hingga sekarang umur32 tahun saya masih sering melakukannya. Tentu saja diluar sepengetahuan istri saya (karena memang hanya diangan-angan saja). tapi sering saya ditegur istri karena ketahuan lagi bengong sambil tiduran..he..he..

Setelah membaca pengalaman penulis-penulis yang sukses di pasar seperti Safir senduk, Eddy Zaques,TDW, Habiburahman Elshirazy sampai Andrea Hirata dengan tetralogi "Laskar Pelangi"nya. Saya jadi terpacu juga untuk menuliskan hasil imajinasi saya tersebut. Selain keinginan dari segi finansialnya. Tetapi juga keinginan untuk berbagi dengan pembaca siapa tahu dengan membaca tulisan saya nantinya ada orang lain terinspirasi dengan tulisan saya yang bisa memicu kearah yang lebih baik, apapun itu bentuknya.

Saat ini saya sedang menulis naskah. mudah-mudahan dalam tahun ini saya bisa menyelesaikan tulisan ini dan bisa berbagi dengan orang lain. Kalaupun tidak diterbitkan dalam bentuk buku karena tidak komersiilnya tulisan saya sebagai pemula. Paling tidak saya bisa jadikan ebook atau bisa saya upload di blog saya nantinya. Ngomong-ngomong soal blog, sebenarnya saya sudah cukup lama punya blog sendiri di www.wahyudi-batam.blogspot.com tapi akhir-akhir ini saya sangat jarang mengupdate contentnya. Blog itu berisi perjalanan usaha sambilan saya dan juga petikan dari tulisan bebrapa orang wirausahawan.

Setelah punya keinginan untuk menulis, sekarang setiap pulang kerja saya luangkan waktu untuk melanjutkan tulisan saya, minimal mendapatkan satu paragrap. Kemudian saya teringat kembali situs pembelajar.com. setelah mengunjungi situs tersebut saya dapatkan artikel-atikel Write and Grow Rich yang ditulis oleh Eddy Zaqeus. Tulisannya sangat menginspirasi. Di Pembelajar.com juga menyediakan Forum Bersama mudah-mudahan tulisan ini bisa dimuat disitu juga ya, paling tidak sebagai langkah awal tulisan saya dibaca oleh orang lain.

Ada tips atau kebiasaan Penulis Best Seller yang dituliskan oleh Mas Eddy Zaqeus di artikelnya. Yaitu Bank Data Naskah. Saat ini saya sudah menuliskan ide-ide tulisan saya di bank naskah hingga saat ini sudah ada 6 tema. Kalau dibandingkan Bank Naskahnya Mas Eddy Zaqeus yang mencapai 700 tema memang nggak ada apa-apanya. Tapi paling tidak sudah ada langkah kecil yang dilakukan.

Mas Eddy, Tolong beritahu saya milis-milis mengenai kepenulisan yang bisa saya ikuti untuk menambah wawasan. Bisa nggak email saya wahyudi@cei.com.sg di add in ke milisnya Penulisbest seller walaupun saya belum menjadi penulis best seller.
Saya pinjam salamnya ya!

Salam Best Seller!

Wednesday, March 28, 2007

TERBENTUKNYA TRI REKAN SUKSES MAKMUR


Setelah lebih dari 3 bulan tidak ngeblog akhirnya hari ini bisa update blog yang sudah sekian lama terbengkalai, karena bisnis baru saya yang menyita waktu sehingga kegiatan menulis terhenti sejenak. Apakah bisnis baru saya setelah usaha Bakso dan Mie ayam harus saya istirahatkan.

Seperti tulisan diblog saya (www.wahyudi-batam.blogspot.com) yang pernah saya tulis diawal-awal saya membuat blog ini : “Bisnis memang tidak Mudah, Walaupun bukan hal yang Mustahil”. Saya jadikan kegagalan di bisnis Bakso & Mie ayam sebagai ongkos belajar. Bersyukur saya berada ditengah-tengah komunitas yang sangat luar biasa ini Tangan Diatas (www.tangandiatas.com) ketika semangat down karena kegagalan yang berulang kali, seketika itu semangat menggebu-gebu kembali saat membaca tulisan-tulisan positif dari rekan-rekan TDA yang membangkitkan motivasi karena mendapat small & big winningnya.

Di bulan Januari 2007 saya mendapatkan big winning ( menurut saya ) yaitu saya mendapatkan teman yang mempunyai isi kepala sama dengan isi kepala saya. Diawali dengan keinginan yang sama untuk memiliki usaha sendiri sebagai kendaraan untuk menjadi TDA, kami mencari peluang usaha yang bisa dijalankan. Ditengah pencariam kami saya teringat dengan Pak Aristo-TDA Batam (owner Nayomi Burger). Kemudian saya SMS beliau, untuk bertemu dan membicarakan keinginan kami menjadi mitra dari Nayomi Burger ( kebetulan saat itu Pak Aristo belum mempunyai mitra). Pembicaraan kami sangat lancar, singkatnya Pak Aristo menerima kami sebagai mitra pertamanya, Dan hebatnya beliau memberikan kami free trial untuk bulan pertama, counter dan semua peralatan dipinjami gratis untuk bulan pertama,itulah enaknya kalau jadi mitra pertama he..he..he.

Kemudian kami mencari satu anggota lagi (wanita) untuk bagian financial dan administrasi. Sepertinya Alloh mempermudah jalan kami karena dalam waktu yang tidak terlalu lama kami dapatkan anggota baru yang mempunyai isi kepala mirip dengan isi kepala kami. Alhamdulillah kami bertiga satu perusahaan sebagia TDB sehingga mempermudah komunikasi dan koordinasinya. Akhirnya terbentuklah “Tri Rekan Sukses Makmur” ( Mudah-mudahan kelak Alloh menjadikan ini sebagai perusahaan yang besar dan bermanfaat bagi keluarga dan masyarakat disekitar kami. Amiin). Selanjutnya kami harus mencari lokasi untuk outlet pertama kami dan juga karyawannya. Lagi-lagi kemudahan diberikan oleh-NYA dan Eengg..Iing..eengg..tanggal 29 Januari 2007 outlet pertama kami dengan resmi dibuka dan hari pertama jualannya ludes sebelum jam kerja berakhir, Alhamdulillah. Walaupun penjualan hari-hari berikutnya tidak sedahsyat hari pertama, mudah-mudahan kesuksesan akan tetap menyertai kami. Amiin.

Pembukaan outlet kedua pun kami rencanakan. Dari hasil diskusi dengan sang owner Pak Aristo kami kembali mendapatkan kemudahan. Dan tanpa tunggu lama-lama akhirnya outlet kedua kita geber pembukaannya dan jadilah Tanggal 24 Februari outlet kedua kami beroperasi. Ikuti kisah selanjutnya.. Bagaimana hasil dari dibukanya 2 outlet ini? Dan strategi apa yang kami pakai untuk pembukaan outlet ketiga dan seterusnya ?? tetap Stay tune di www.wahyudi-batam.blogspot.com

Friday, March 09, 2007

Ciri-ciri Orang berbakat kaya antara lain :

Apakah kita secara tidak sadar telah melakukan sebagian kecil sifat/tanda orang berbakat kaya?
luangkan waktu sejenak untuk membacanya.

Ciri-ciri Orang berbakat kaya antara lain :
1. Menghindari bekerja dengan penghasilan tetap, bagi orang berbakat kaya, bekerja dengan penghasilan tetap adalah "penjara" terhadap kemungkinan mendapat penghasilan yang jauh lebih besar. Memang fixed income lebih aman, namun kecil kemungkinan untuk melonjak. Jadi, mereka lebih menyukai pekerjaan dengan insentif yang lebih tinggi diandingkan fixed salary. Menurut cara berpikir orang kaya, bekerja dengan penghasilan tetap bukanlah cara yang tepat untuk mencari keamanan dalam hidup. Langkah yang mereka pilih adalh mnebarkan mata kail ke banyak kolam. Tak ada kepastian dari satupun mata kail, namun mereka bisa mendapatkan lebih banyak ikan dari yang ia duga sebelumnya.

2. Respek terhadap Orang-Orang sukses, setiap kisah keberhasilan memerlukan ilham. Orang-orang kaya biasanya sangat respek terhadap mereka yang berhasil. Mereka juga kagum pada orang-orang yang menggeluti dunianya secara total tanpa syarat. Banyak ilham yang bisa digali dari kisah hidup mereka yang membaktikan hidupnya terhadap suatu bidang misalnya :
tentang loyalitas, totalitas, daya hidup, fighting spirit, dan lain-lain. Setiap orang sukses punya panutan atau mentor yang sangat mempengaruhi cara hidupnya.

3. Tak Pernah mengeluhkan modal yang kecil, orang biasa selalu mengeluhkan modal ketika mereka beralih kuadran dari employee ke business owner atau investor. Tapi orang berbakat kaya tidak pernah mempersoalkan modal, padahal mereka juga belum tentu punya uang. Rencana bisnis yang baik akan selalu banyak mengundang investor dengan sendirinya. Jika kita memiliki trust di mata jaringan relasi, modal menjadi faktor kesekian yg menentukan keberhasilan bisnis. bagi orang-orang yang berbakat kaya, gagasan lebih penting daripada modal kapital. kalau gagasan kita bagus, kita tak perlu mengeluarkan uang sepeserpun. Biarkan orang lain membiayai proyek kita. Gagasan itu sendiri sudah merupakan modal yang nilainya melebihi uang.

4. Menggunakan Setiap Aktivitas Konsumsi Sebagai Sarana Pembelajaran, Orang biasamenikmati setiap aktivitas konsumsi tanpa belajar apa pun. Mereka benar-benar menikmati pemeo "pembeli adalah raja", sehingga tak pernah membayangkan diri berada pada posisi yang melayani sang raja. Padahal, sang pelayan seringkali jauh lebih kaya dibandingkan "raja" yang dilayani. Orang-orang berbakat kaya selalu menggunakan aktivitas konsumsi sebagai sarana pembelajaran,misalnya ketika makan di suatu resto, orang berbakat kaya akan memperhatikan bagaimana resto itu dikelola, apa strategi yang dikembangkan pemilik resto, berapa taksiran omzetnya, dan seterusnya. Sebaliknya, orang biasa dan kelas menengah Cuma menikmati hidangan dan suasana resto tersebut tanpa pernah berpikir resto itu adalah "pabrik duit" bagi pemiliknya.
5. Tak Pernah Minta Kenaikan Plafon Kartu Kredit, Kartu Kredit adalah "uang plastik" yang digunakan sebagian besar untuk kebutuhan konsumtif. Suku bunganya tinggi. Kepemilikan kartu kredit, bagi kebanyakan orang akan mendorong konsumsi ke level yang lebih tinggi. Orang-orang yang berbakat kaya bukannya anti kartu kredit. Mereka punya terutama untuk keperluan emergency, namun mereka enggan menggunakannya hingga menyentuh limit. Apalagi jika
kemudian meminta kenaikan plafon kartu kredit.
6. Mampu Menggunakan Sumber Daya Orang lain, orang biasa "menjual" dan "menyewakan" tenaganya untuk orang-orang kaya. Sebaliknya, orang kaya menggunakan waktu dan tenaga, bahkan uang orang lain, untuk membuat dirinya semakin kaya. Bukan berarti orang biasa dan kelas menengah tidak memiliki potensi untuk menjadi kaya. Mereka hanya kekurangan dua hal, yaitu : gagasan cemerlang dan kepercayaan diri. Kalau mereka memiliki keduanya, maka mereka bisa masuk dalam kategori orang-orang berbakat kaya.

Disadur dari tulisan:

Henky Eko S (Cak Eko)

Saturday, December 09, 2006

7 Penyakit Pengusaha Kecil

Ini bukan tulisan saya, melainkan tulisan Yanto Sidik Pratiknyo, yang saya kutip dari webnya Astra. Selamat membaca.
7 HAMBATAN PENGUSAHA KECIL Yanto Sidik Pratiknyo
Pengusaha kecil dalam menjalankan operasinya banyak menghadapi permasalahan berupa penyakit yang menyerang usahanya. Penyakit ini terkadang dianggap sepele, tetapi banyak yang menyebabkan matinya usaha. Meskipun ada pengusaha kecil yang menderita penyakit ini tetapi dapat besar dan sukses, namun umumnya mangalami banyak permasalahan. Ada tujuh penyakit yang banyak diderita oleh pengusaha kecil :
1. Tuli, kurang dapat menerima informasi. Bila sudah mendengar satu informasi ia tidak dapat mendengar / tidak mau mendengar informasi baru. Penyakit ini dapat mematikan usaha.
2. Muntah, mengeluarkan sesuatu dari mulut yang seharusnya diprosesdalam perut. Meskipun penyakit ini sederhana tetapi membuat hidup pengusaha kecil semakin susah saja.
3. Mencret, penyakit yang diakibatkan kecerobohan dan kurang hati-hati. Penyakit yang sederhana ini juga dapat mematikan.
4. Kurap, penyakit sederhana yang sering diabaikan tetapi lama kelamaan dapat mematikan.
5. Batuk, juga banyak penyakit yang banyak diderita pengusaha kecil dan penyakit batuk menahun sangat berbahaya.
6. Kutil, penyakit lain yang lama kelamaan juga membahayakan pengusaha karena biasanya akan mengecewakan orang lain.
7. Campak, penyakit terakhir yang paling berbahaya dan kebanyakan tidak dapat diobati. Hanya dengan kesadaran yang kuat penyakit ini dapat disembuhkan. Kebanyakan pengusaha yang menderita penyakit dapat mengalami kematian usaha.
7 HAMBATAN Tujuh penyakit di atas sebetulnya berkaitan dengan masalah yang dijumpai dan dihadapi oleh pengusaha kecil yaitu dapat digolongkan berdasarkan fungsi-fungsi manajemen dikatagorikan sebagai berikut :
Ø Masalah Pemasaran (Tuli, mencret, muntah)
Ø Masalah Produksi ( Kurap dan batuk)
Ø Masalah organisasi ( Kutil)
Ø Masalah keuangan ( Campak)
Penjelasan berbagai masalah ini adalah sebagai berikut :
TULI, yang dimaksud tuli adalah "Satu Pembeli". Mungkin hal ini sangat janggal, mengapa ada pengusaha yang hanya memiliki satu atau dua pembeli saja. Untuk lebih jelasnya diberikan contoh-contoh di bawah :
Ø Pada kontraktor, perusahaan kecil biasanya hanya mampu mengerjakan proyek kecil saja. Setelah mengerjakan proyek tersebut, seluruh kapasitasnya habis terkuras. Proyek lain tidak ada lagi, sehingga pembelinya hanya satu, itupun untuk dapat satu proyek harus berusaha dan bekerja dengan susah payah.
Ø Catering juga mengalami hal yang sama, setelah menerima order, misalnya selama tiga bulan, suatu kantor atau pabrik, sudah sukar untuk jualan lagi di akntor lain karena kapasitasnya sudah habis.
Ø Kadang kala dalam kasus subcontractor, produsen hanya satu perusahaan besar lain, dan sudah habis tenaganya. Dan masih banyak lagi contoh lain, kelemahan utama dari penyakit ini adalah :
Ø Harga jual dikuasai oleh pembeli, pengusaha kecil tidak berani menawar, takut kalau batal ordernya, yang berarti perusahaan tidak dapat penghasilan karena tidak memiliki pembeli lain. Ø Sering order yang diperoleh tidak kontinyu, karena pengusaha jenis ini banyak yang mengantri pekerjaan, sehingga diterapkan asas giliran atau arisan pekerjaan.
Ø Bila satu-satunya pembeli tidak membeli perusahaan akan bangkrut. Kadang kala ada perusahaan yang menderita penyakit ini tapi tetap sukses, tetapi tidak banyak, dan biasanya mereka memiliki suatu hubungan yang khusus dengan pembeli, tetapi hubungan ini putus setelah perusahaan menderita/ mengalami masalah.
MENCRET , yang dimaksud mencret adalah " Menjual ceroboh dan Teledor". Pengusaha sering kurang perhatian terhadap pembelinya, pelayanan yang tidak baik, sering "Mengecewakan Pembeli" dapat menyebabkan pembeli lari ke tempat lain . Diberikan beberapa contoh di bawah ini :
Ø Seorang calon pembeli menanyakan harga produk yang ditawarkan, tetapi salesman tidak dapat menjawab dan mempersilahkan pembelinya langsung telepon ke pemilik perusahaan karena masalah harga menjadi wewenang pemilik. Calon pembeli marah dan berkata, kalau jualan tidak tahu harga produkmaka jangan jualan, pemiliknya saja yang disuruh menjadi salesman. Kamu duduk-duduk dikantor saja, ini pemilik tidak mau sampai anak buahnya berhasil menjual, karena dapat merongrong kewibawaan, meskipun karyawan ikut memajukan perusahaan.
Ø Seseorang menjahitkan setelan jas untuk resepsi, setelah disepakati tentang lama pemesanan (order), pemesan datang lagi pada hari yang ditentukan. Ternyata jasnya belum selesai, sedangkan jas tersebut harus segera dipakai untuk pertunangan,tentu hal ini akan membuat keributan.
Ø Penjual selalu memberikan kembali dengan permen. Oleh seorang pembeli permen tersebut dikumpulkan lalu dipakai untuk membeli ditempat penjual tersebut. Penjual marah : yang benar saja beli pakai permen, memang toko bapakmu.
Ø Ukuran kaki ibu terlalu besar, silahkan saja pergi ke rak sepatu basket pria, disana banyak yang cocok. Masalah yang dapat timbul adalah :
Ø Penjual sering menyinggung perasaan pembeli.
Ø Penjual tidak memahami kebutuhan dari pembeli.
Ø Pembeli tidak datang lagi karena kecewa, sehingga lama kelamaan pembeli habis tidak ada yang berkunjung.
MUNTAH, Yang dimaksud dengan muntah adalah " Menjual Mentah". Pengusaha sebagai penjual tidak melakukan nilai tambah apa-apa, barang yang dijual persis seperti yang dibeli. Untuk jelasnya diberikan contoh di bawah :
Ø Penjual cabe, hanya menjual cabe saja tanpa proses. Waktu produksi sedikit, harga jual baik, tetapi harga beli cabenya juga naik, waktu kelebuhan produksi harga jual, pengusaha menderita kerugian. Masalah yang dihadapi oleh pengusaha ini antara lain adalah :
Ø Laba yang diperoleh tidak banyak, karena pengusaha tidak melakukan proses tambahan.
Ø Karena tidak diproses maka produknyya bersifat umum dan biasa, sehingga mudah direbut pesaing.
Ø Harga tidak stabil cenderung merugikan pengusaha.
KURAP, penyakit kurap adalah "Kurang Pemasok/suplier", Banyak perusahaan hanya memiliki satu pemasok. Karena mereka menganggap pemasok tersebut sebagai langganan, mereka percaya penuh, sehingga tidak pernah membandingkan dengan pemasok lain, sedangkan pemasok lain harganya dan syaratnya bisa lebih baik. Akibat pengusaha tidak memiliki hubungan dengan pemasok lain, sehingga kalau terjadi masalah dengan pemasok tersebut, maka pengusaha akan menghadapi masalah besar. Bahkan banyak pengusaha hanya memiliki satu pemasok bahan baku sekaligus pemasok tersebut menjadi satu-satunya pembeli. Contohnya sebagai berikut :
Seorang pengusaha sepatu membeli kulit dari pemasok kulit, yang ternyata adalah sekaligus juga pembeli dari seluruh produk sepatu. Masalah yang dihadapi oleh pengusaha ini adalah :
Ø Harga beli dikuasai oleh pemasok.
Ø Bila pasokan berhenti maka perusahaan dalam masalah karena tidak ada alternatif dari pemasok lain.
Ø Akan muncul masalah komplek yang lain.
BATUK, Penyakit batuk adalah "Barang Tunggal dan Ketinggalan Model", juga sering dijumpai diberbagai pengusaha. Sampai pengusaha itu akan bangkrut namun tetap mampertahankan produk yang dihasilkan walaupun sudah tidak sesuai lagi dengan selera pasardan tidak melakukan diversifikasi produk usahanya.. contoh yang dapat diberikan :
Ø Pengrajin lurik dengan ATBM (Alat Tenun Bukam Mesin) banyak yang bangkrut di daerah Delanggu, Pengrajin gerabah yang memproduksi kendi, celengan sederhana yang mengalami gulung tikar karena tidak mencoba melakukan diversifikasi usaha dan menuruti selera pasar konsumen yang berkembang. Masalah yang dijumpai oleh pengusaha yang hanya memiliki satu output produk antara lain :
Ø Perusahaan yang hanya memiliki output satu produk mudah disaingi oleh kompetitor lain, karena tidak memiliki produk potensial yang lain.
Ø Perusahaan yang hanya memiliki satu output produk bisa mengalami bangkrut, karena produk yang dihasilkan memiliki usia kejenuhan suatu produk dan apabila sudah tidak laku pengusaha tidak dapat menyesuaikan diri untuk beralih ke produk lain.
Ø Pengusaha yang demikian biasanya tidak memiliki daya kreatif dan tidak mau diberi saran. KUTIL, yang dimaksud adalah "Kurang Terampil". Banyak pengusaha memasuki bisnis tanpa memiliki ketrampilan yang baik dan hal ini tetap terus dipertahankan selama usaha. Pengusaha enggan untuk meningkatkan kemampuan ketrampilan, lebih-lebih untuk meningkatkan kemampuan bawahannya, karena dianggap hanya akan menambah biaya operasional perusahaan. Contoh sebagai berikut :
Ø Pengusaha mebel, yang tidak pernah meningkatkan ketrampilannya untuk dapat membuat mebel knock down. Pengusaha ini secara perlahan-lahan akan mengalami kehabisan pasar alias tidak ada pembeli yang ingin membeli produknya.
Ø Pengrajin kompor, selalu mempertahankan tehnologinya meskipun sudah banyak keluhan dari pembeli kalau kompor tersebut sering meledak saat digunakan. Masalah yang sering dijumpai oleh pengusaha tersebut antara lain :
Ø Pengusaha tidak mau meningkatkan kemampuan untuk perkembangan usahanya.
Ø Pengusaha tidak mau meningkatkan kemampuan bawahannya, sehingga mutu/kualitas produknya kurang sesuai dengan keinginan konsumen.
CAMPAK, yang dimaksud adalah "Campuran Usaha dan Keluarga". Penyakit ini adalah penyakit yang paling parah dan paling banyak dijumpai oleh pengusaha kecil. Memang dalam usaha kecil, usaha dan keluarga tercampur, tetapi kalau hal ini terus dilestarikan, banyak pengusaha kecil justru tidak berkembang atau mengalami kebangkrutan. Faktor yang tercampur biasanya meliputi keuangan yaitu membeli keperluan keluarga yang dibebankan pada perusahan dan masalah keputusan, dimana istri dan anak yang tidak memiliki keahlian ikut campur dalam keputusan perusahaan yang berarti. Perusahaan seperti ini dalam perkembangannya justru semakin menyempit, dimana yang berperan dalam perusahaan adalah anggota keluarga dan orang luar disingkirkan. Sebenarnya dibandingkan dengan penyakit sebelumnya, penyakit ini merupakan penyakit yan dibuat sendiri.
Pada aspek pasar, masalah dikendalikan oleh pembeli, pada aspek produksi dikendalikan oleh pemasok dan aspek organisasi masalah ditentukan oleh kayawan. Dalam aspek keuangan terjadinya masalah karena muncul dari diri pengusaha sendiri. Karena pengusaha sering tidak dapat mengontrol diri sendiri, maka banyak masalah timbul. Contohnya adalah :
Ø Seorang pengusaha berfoya-foya ketika perusahaanya untung dengan menggunakan uangnya secara konsumtif untuk keperluan keluarga, kayawan tidak ikut menikmati, bahkan uang lembur diberikan terlambat. Masalah yang dijumpai dalam hal ini adalah :
Ø Sulit melakukan kontrol keuangan, karena pengusaha kecil memang tidak mau keadaan kas keuangannya terkontrol.
Ø Pengeluaran keluarga sring dijumpai jauh lebih besar dari pengeluaran perusahaannya.
Ø Tidak memberikan teladan yang baik pada karyawan, karena karyawan dapat ikut-ikutan merusak perusahaan.
ALTERNATIF PENGOBATAN
Alternatif pengobatan yang bisa dilakukan oleh pengusaha
1. Tuli (Satu Pembeli) dapat diobati dengan "PERMEN" yang dimaksud adalah "Pengecer atau Multi Konsumen". Pengusaha sebaiknya menjadi pengecer yang melayani partai kecil atau eceran, bukan grosir, yang hanya menjual partai besar. Menjadi grosir dimungkinkan apabila pembelinya tetap banyak. Contoh pada sentra sepatu Cibaduyut, sentra jeans di Cihampelas, sentra gerabah di kasongan Yogya dan sebagainya.
2. Muntah (Menjual Mentah) dapat diobati dengan "PROMAH', yang dimaksud adalah "Proses dan Nilai Tambah". Pengusaha harus memberi nilai tambah dengan alternatif cara dalam pemprosesan produksi.
3. Mencret (Menjual ceroboh dan Teledor) dapat diobati dengan " KEMENYAN", yang dimaksud adalah "Ketrampilan Menjual dan Ramah", diperlukan peningkatan ketrampilan penjualan, terutama dalam mengatasi keberatan pelanggan secara bijaksana.
4. Kurap (Kurang Pemasok) dapat diobati dengan "Surbek T" yang dimaksud adalah "Survey ke banyak Pemasok dan Tempat Lain". Meskipun membeli dalam jumlah sedikit, perlu kita membeli barang ke berbagai pemasok agar dapat mengetahui perkembangan dan dapat membandingi harga antar pemasok juga penting untuk membina hubungan. Memang tidak selalu satu pemasok itu buruk untuk usaha kita.
5. Batuk (Barang Tunggal dan Ketinggalan Model) dapat diobati dengan "Diatab" yang dimaksud adalah "Diversifikasi Produk dan Tambah Barang ". diversifikasi dijalankan dengan produk yang sejenis atau yang mendukung, jangan yang berbeda jenis, kemungkinan peengusaha mengalami kesulitan. Pada periode-periode tertentu perlu dilakukan perubahan mode sekaligus mengamati perkembangan selera pasar.
6. Kutil (Kurang Teliti) dapat diobati dengan "Kurma" yang dimaksud adalah "Kursus dan Magang". Mengikuti baik pelatihan ketrampilan teknis maupun manajerial dan juga perlu mengikuti program pemagangan. Pengusaha juga harus bersedia mengirimkan bawahannya mungkin sampai berbulan-bulan untuk magang tanpa mnghasilkan apa-apa.
7. Campak (Campuran Usaha dan Keluarga) dapat diobati dengan " Oralit" yang dimaksud adalah "Moral dan Itikad". Obat utama dari penyakit ini adalah moral, etika dan nilai yang baik, tidak hanya dipahami tetapi juga diterapkan. Tanpa hal ini, banyak perusahaan tidak berkembang bahkana mengalami banyak masalah. Tanpa didasari moral yang baik, maka pelatihan manajemen keuangan, harga pokok produksi, pembukuan sederhana, tidak ada manfaatnya sama sekali.Pengontrolan hanya bisa dilakukan dengan moral yang baikdan kuat. Bila pemilik sudah tertutup dan tidak dapat mengontrol dirinya, maka perusahaan trerus menerus dalam kesulitan.
PENUTUP
Pada saat ini, suatu saat kita suka atau tidak suka akan segera menghadapi masa era globalisasi perdagangan bebas,sehingga pengusaha dituntut untuk mengetahui kekuatan dan kelemahan (penyakit) perusahaannya secara menyeluruh. Alternatif pengobatan/ pemecahan masalah yang diuraikan diatas mungkin dapat menjadi acuan bagi para pengusaha, namun hal yang lebih penting adalah kemauan dan kerja keras pengusaha kecil untuk meningkatkan serta mengembangkan usahanya, karena masa depan suatu usaha sangatlah ditentukan oleh pengusaha kecil itu sendiri. Dunia entrepreneur adalah dunia yang sangat menarik serta penuh tantangan. Masa depan dunia entrepreneur adalah juga masa depan perekonomian Indonesia.

IT'S TIME TO CHANGE

Seorang member milis Motivasi Nurani Indonesia mengirimkan email kesaya.Sebut saja namanya Anton (bukan nama sebenarnya), karena dia tidak ingindisebutkan namanya di milis. Berikut ini emailnya:" Selamat pagi Pak Eko Jalu, saya anggota milis MotivasiIndonesia, sejakada artikel mengenai Menjadi Orang Paling Baik, sampai sekarang saya selalumenyimpan dan membaca artikel-artikel Pak Eko Jalu. Saya senang sekalidengan artikel-artikel tsb, saya juga sedang menunggu bukunya Pak Eko Jaluditerbitkan .
Saya sangat terinspirasi dari artikel-artikel bapak dan saya juga senangmemikirkan orang lain, bersama-sama teman-teman di lingkungan perumahansaya. Saya juga selalu berusaha bersyukur bahwa saya sudah punya rumahsendiri, punya istri dan anak yang lucu sekali, punya lingkungan kerja dandan lingkungan rumah yang bisa menerima saya dan keluarga saya.Namun ada hal yang sangat mengganjal, saya merasa tidak ‘sukses’ dan telah'gagal' selama ini. Pekerjaan saya statis selama 10 tahun, tidak adaperkembangan yang berarti dan masih berada di posisi yang sama. Saya lulusanD3 Akuntansi, namun saya bekerja sebagai administrasi di suatu departmentengineering. Saya sudah berusaha optimal membantu dan berkarya di tempatkerja saya. Saya bekerja keras, meluangkan banyak waktu, bahkan kadangmengorbankan waktu keluarga dengan harapan dapat meningkatkan kehidupansaya, tetapi kenyataannya tidak ada perubahan yang berarti. Nampaknya systemkarir & system kompensasi di perusahaan saya tidak mendukung. Sehinggakondisi ekonomi saya selalu 'pas-pasan' dan cenderung kurang. Hingga kinisaya belum bisa membantu orang tua, selain hanya menghubungi lewat telpon.
Saya benar-benar ingin sekali mengubah keadaan saya, tapi saya tidak tahuharus mulai dari mana dan melakukan apa. Saya tidak mempunyai keahliankhusus, pengendalian emosi saya kurang baik, umur saya sudah 31 tahun,bilamana mencari pekerjaan baru harus bersaing dengan anak-anak muda yanglebih creative & productive . Saya mohon bantuan di sela kesibukan Pak EkoJalu untuk sekiranya dapat memberikan pencerahan. "Mungkin masalah diatas tidak asing dan mudah ditemukan di lingkungan sekitarkita. Mungkin ada diantara kita bahkan yang terjebak dalam situasikehidupan yang sama seperti diatas. Kita seolah-olah sudah berusaha bekerjakeras dengan harapan akan mampu mengangkat kehidupan kita ke taraf yanglebih baik, tetapi nampaknya tidak ada perubahan berarti. Semakin kitabekerja keras, semakin kita tidak mempunyai waktu, untuk diri kita sendirimaupun keluarga. Dan pada satu titik tertentu, mungkin kita akan merasafrustasi, karena semua kerja keras yang kita lakukan tidak bisa memberikanharapan seperti yang kita inginkan .
Sedangkan ketika kita menengok kehidupan orang lain, si Hendra teman kuliahdulu yang nggak pintar-pintar amat, kini sudah menduduki posisi AsistenMarketing Direktur, si Yanti yang dulunya lugu, kini sudah punya usahaboutik yang berkembang pesat, dll. Bahkan terkadang anak buah kita dulu,kini sudah melampaui posisi kita saat ini, entah dalam kehidupan kariermaupun dalam kehidupan ekonomi. Kalau sudah demikian, kemudian kita menjadifrustasi dan merasa menjadi orang yang tidak sukses atau gagal.
Kalau kita berada dalam situasi yang demikian, maka "It's Time To Change".Ini saatnya untuk berubah. Pertanyaannya apanya yang harus diubah ? Banyakorang berpendapat, bahwa berubah itu berarti berganti pekerjaan atau pindahperusahaan. It's ok. Mungkin bagi beberapa orang hal ini bisa memberikanharapan lebih baik. Tapi mungkin bagi sebagian orang yang lain, ternyatahanya memberikan harapan semu sementara saja. Karena ternyata di perusahaanyang baru tersebut, setelah beberapa saat mereka menemukan hal-hal baru yang`menjebak' mereka seperti kisah teman diatas. Lalu mereka mulai stress, dankembali terjebak dalam kehidupan yang semula.Kalau demikian apanya yang harus diubah ?. Yang harus diubah adalah 'dirikita sendiri'. Perubahan itu harus dimulai dari dalam diri kita, bukan dariluar.
Cobalah renungkan beberapa pertanyaan dibawah ini, mungkin Anda akanmenemukan sesuatu yang harus diubah dari dalam diri Anda :
- Bagaimana dengan cara kerja anda, sudahkah anda bekerja secara kreatif,efektif dan efisien ?
- Bagaimana dengan cara pandang anda terhadap pekerjaan ?
- Apakah andaberpikir bahwa pekerjaan yang anda lakukan adalah beban, ataukah sebuahkesenangan, atau sebagai ibadah ?
- Apakah anda merasa sudah mentok dan tidak ada kesempatan untukmeningkatkan karier, Ataukah anda berusaha menciptakan kesempatan itu,dengan prestasi kerja tertentu, misalnya ?
- Apakah anda lebih suka menggosipkan bagaimana `pelit'nya perusahaanterhadap anda ataukah anda lebih suka memikirkan, bagaimana perusahaan andabisa tumbuh dan berkembang seperti sekarang ?
- Apakah anda lebih suka menggosipkan bagaimana rekan anda yang `pandaimenjilat' sehingga prestasinya melesat, Ataukah anda belajar, prestasiapakah yang telah dia ciptakan sehingga cepat maju ?
- Apakah Anda sudah berusaha meningkatkan diri, melalui berbagai kesempatanbelajar dan training, misalnya ?
- Dll.Hanya diri kita masing-masing yang bisa menjawab hal ini dengan jujur. Kalaukemudian Anda sudah menemukan berbagai jawaban itu dengan jujur, mulailahmelakukan perubahan dari dalam diri Anda, sebelum mengharapkan adanyaperubahan dari luar.
Saran Dan Aplikasi Untuk Melakukan Perubahan menuju keberhasilan:
1. Tanamkan keyakinan bahwa sukses itu dimulai dari dalam hati dan pikirankita sendiri.
2. Bayangkan atau imajinasikan dengan gambar yang jelas, sejernih kristalkeinginan yang ingin Anda raih dalam waktu 2-5 tahun yang akan datang.Jadikanlah impian ini menjadi sebuah tujuan kesuksesan Anda.
3. Tetapkan alasan yang kuat, mengapa anda menginginkan tujuan kesuksesanitu. Mengapa impian itu sangat penting bagi Anda. Memiliki alasan yang kuat,dapat menciptakan "Stroing Desire", motivasi yang tinggi untuk mencapainya.
4. Sincere Belief. Meyakini bahwa Anda pasti bisa mencapai tujuan impiankesuksesan Anda dalam 2-5 tahun mendatang.
5. Enthusiastic Action .Lakukanlah kegiatan dengan bersemangat dan kerjakeras. Salurkan seluruh energi dari dalam diri Anda untuk selalu fokus padakegiatan yang ada hubungannya dengan pencapaian impian Anda tersebut.
6. Tawakal Kepada Allah. Imbangi setiap usaha lahiriah, semangat tinggi,kerja keras dengan usaha batiniah, senantiasa bertawakal dan memohon kepadaAllah. Karena Allah adalah pemilik kesuksesan.Selamat berjuang. Salam Motivasi Nurani Indonesia.
Sumber: It's Time To Change
Oleh Eko Jalu Santoso,
Founder Motivasi NuraniIndonesia

Saturday, December 02, 2006

Sesuaikah Jenis Usaha Anda Dengan Tipe Kepribadian Anda?

Sesuaikah Jenis Usaha Anda Dengan Tipe Kepribadian Anda? (Bagian 1)
Ada 1001 macam jenis usaha yang sudah ada, dan mungkin ada 1001 macam jenis lagi yang akan digali oleh orang-orang inovatif. Peluang bisnis tidak akan pernah habis, dan kesempatan selalu akan ada selama umat manusia masih menjalankan hajat hidupnya di dunia ini.
Namun demikian, menentukan jenis usaha yang akan dipilih memang sering membingungkan. Ada orang yang menentukan bidang usahanya karena ia melihat bidang tersebut sedang "ngetrend", dan karena banyak sekali orang lain yang juga ingin mendirikan usaha dalam bidang yang sama.Ada lagi yang menetapkan jalur usahanya karena ia kebetulan punya pengalaman di jenis usaha tersebut sebelumnya. Orang lain mungkin membuka toko atas saran sahabat-sahabatnya. Karena keanekaragaman latar belakang seperti itu, bagi seorang pemula, menentukan kegiatan usaha tentu menjadi sesuatu yang sulit. Adakah pendekatan yang lebih mudah untuk mengatasi masalah ini ?
Beberapa orang mengeluhkan : "Saya tidak pintar "ngomong", mana bisa jadi usahawan ?" Sementara yang lain mengatakan : "Saya tidak bakat, tidak biasa dan tidak pandai dagang, mana mungkin jadi wiraswastawan ?" Sepintas memang kalimat-kalimat di atas cukup masuk akal, akan tetapi, sekali lagi perlu ditegaskan bahwa kewiraswastaan tidak identik dengan dagang, sedangkan untuk menjadi wiraswastawan tidak tergantung dari persoalan seseorang "pintar ngomong" atau tidak. Lebih penting adalah adanya niat, kemauan keras serta keuletan.
Yang perlu kita lakukan pertama kali adalah, memeriksa dan berusaha mengenal diri sendiri. Kita perlu mengetahui, siapa diri kita sebenarnya, bagaimana sifatnya, apa saja kemampuannya, apa saja kesenangan-kesenangan nya dan sebagainya. Dengan mengenali diri sendiri seperti itu, kita akan lebih mudah menyesuaikan bidang usaha yang akan dijalankan.Sifat dan pembawaan seseorang merupakan hal penting yang perlu diperiksa terlebih dahulu sebelum memutuskan untuk mengusahakan sesuatu. Manusia, pertama sekali bisa dilihat dari minatnya untuk berhubungan dengan manusia-manusia lain. Sebagian orang memiliki tipe dasar kepribadian yang cenderung "ingin" membangun hubungan-hubungan dan ikatan-ikatan terhadap orang-orang lain. Sebagian lagi justru berorientasi meminimalisasi diri dari kontak-kontak antar manusia. Di antara kedua sifat ekstrim tersebut, orang-orang lainnya mempunyai kadar atau intensitas yang berbeda-beda dalam hal keinginan berkomunikasi satu sama lain.
Pada ekstrim yang pertama dimana orang memiliki pembawaan yang selalu "terbuka" bagi pergaulan dengan anggota masyarakat lainnya, disebut orang yang "terbuka", atau dikatakan juga "extrovert". Sebaliknya, orang-orang yang sangat membatasi diri dari pergaulan, disebut orang yang "tertutup" atau "introvert".Selain persoalan "introvert" dan "extrovert" yang merupakan sifat-sifat manusia tentang bagaimana orientasinya dalam berhubungan dengan masyarakat, maka kita juga perlu melihat bagaimana kecenderungannya dalam melaksanakan hubungan itu sendiri. Apakah ia cenderung memerintah dan mengendalikan orang lain, ataukah justru condong mengalah. Yang disebut terdahulu, orang dengan kecenderungan ingin mengendalikan orang lain, dinamakan sifat yang "dominatif", sedang yang kedua dinamakan "dedikatif".
Dengan demikian ada dua sisi penilaian, yang pertama tentang intensitas keinginan bergaul yang terdiri dari sifat-sifat "introvert" dan "extrovert", serta yang kedua tentang kadar dorongan mendominasi orang lain, terdiri dari jenis "dominatif" dan "dedikatif". Kombinasi dari keduanya, kalau digambarkan akan membentuk sebuah garis sumbu X (horisontal) yang mewakili garis "kadar dominasi", yang dipotong oleh sebuah garis sumbu Y (vertikal) yang mewakili intensitas keinginan berhubungan dengan orang lain, yang kita sebut sebagai garis "pembawaan".Dengan demikian, akan diperoleh 4 buah kuadran yang masing-masingnya akan menunjukkan sebuah tipe pembawaan manusia, dalam hubungannya dengan bagaimana yang bersangkutan mengadakan kontak dengan orang-orang lain.
Kuadran pertama, menggambarkan tipe menusia yang dinamakan "Dominan" (D), dibentuk dari perpaduan sifat introvert, dengan pembawaan yang kuat untuk mendominasi orang lain. Kuadran kedua, mewakili orang-orang dengan sifat extrovert, senang bergaul dengan orang banyak, terkombinasi dengan bawaan yang juga mendominasi. Golongan ini dinamakan orang-orang dari tipe "Populer" (P), karena sifatnya cenderung mencari pengaruh (influence), popularitas dan persahabatan. Kemudian, ada lagi tipe "Tenang" (T), dibentuk dari perpaduan antara bawaan yang extrovert, dengan sifat condong mengalah pada orang lain. Disebut tipe "Tenang" karena yang bersangkutan biasanya berperilaku tenang (steadiness) serta ramah-tamah (amiable). Tipe "T" terdapat pada kuadran ketiga. Terakhir adalah tipe "Konvensional" (K), terdapat pada kuadran terakhir, kuadran ke empat. Tipe ini dibentuk dari pembawaan yang introvert, terkombinasi dengan sifat mengalah atau melayani.Dengan adanya keempat tipe ini, masing-masing D,P,T dan K, kita akan mendapatkan peluang untuk menganalisa kondisi mereka, tentang kecondongan-kecondongannya dalam berinteraksi dengan orang-orang lain serta lingkungannya. Kita mulai untuk melihat bagaimanakah kira-kira seluk-beluk orang dari tipe "Dominan".Orang tipe "D" memiliki motivasi dasar untuk mengejar prestasi. Tindak tanduknya selalu berorientasi kearah suksesnya hasil akhir dari suatu pekerjaan atau tanggung jawab. Sangat menyenangi tantangan, dan untuk bisa berhasil, mereka akan bersedia bekerja keras, bahkan kalau perlu, dengan cara apa saja atau menghalalkan segala cara. Kurang peduli terhadap lingkungan pergaulan, tidak banyak bicara, bertindak serba cepat dan praktis, langsung kesasaran.Individual tipe "D" menyukai kebebasan, situasi dimana ia tidak diatur-atur orang lain, bebas berkreasi, bebas mengembangkan ide-idenya sendiri untuk mengalahkan tantangan yang dihadapinya. Mereka juga menginginkan kekuasaan, karena tanpa otoritas, keinginannya untuk mengembangkan kreativitas dan gagasan-gagasannya tentu akan banyak terhambat oleh orang lain yang lebih berkuasa. Bila berhasil mengatasi suatu permasalahan, biasanya mereka sudah tidak tertarik lagi untuk menghadapi masalah yang sama, karena kadar tantangannya sudah tidak ada lagi. Oleh karena itu, mereka amat menyukai aktivitas yang bervariasi, makin banyak keragaman, makin bergairah mereka bekerja. Dalam bekerja pun, tingkat kesulitan merupakan sorotan tersendiri. Bagi orang tipe "D", pekerjaan yang bermutu, adalah pekerjaan yang tingkat kesulitannya tinggi, baru mereka merasa tertantang dan mendapat kepuasan setelah berhasil.
Para "Dominan" yang bekerja disuatu perusahaan atau instansi, menginginkan bahwa status dan jenjang karir yang mereka peroleh, merupakan penghargaan atas prestasi-prestasi kerja mereka. Dengan begitu, mereka akan mendapatkan kebanggaan tersendiri bahwa prestasinya adalah hasil dari serentetan kerja keras dan susah payah.
Sementara itu, orang-orang tipe "P", melakukan sepak terjangnya berdasarkan motivasi untuk memperoleh "pengakuan" (recognition) dari orang banyak, sehingga mereka bisa merasa diri sebagai orang penting dilingkungannya. Karena tujuannya lebih pada bagaimana penilaian orang banyak, maka orang "P" kadang-kadang kurang mewaspadai hasil akhir dari suatu pekerjaan, termasuk batas waktu penyelesaiannya. Mereka menginginkan popularitas, dan untuk itu mereka akan berusaha sedapat-dapatnya untuk mencari pengaruh (influence) kesana-kemari.
Tipe "P" menginginkan prestise, banyak bicara dan sangat mendambakan hubungan-hubungan yang hangat serta bersahabat dengan berbagai fihak. Seperti juga orang tipe "D", para "Popularian" menghendaki situasi yang penuh kebebasan, jauh dari aturan-aturan ketat serta kendali-kendali yang terlalu rinci. Kreativitas menghendaki kebebasan, begitu menurut mereka.Sebagai konsekuensi dari sifat mereka yang extrovert, orang "Pop" sangat menyenangi pergaulan dengan orang banyak, dengan siapa saja. Pintar bergaul. Untuk itu mereka tidak segan-segan untuk menolong orang lain, serta memotivasi siapa pun yang menurutnya membutuhkan dorongan guna mencapai kemajuan-kemajuan dalam bisnis atau kehidupan ini. Berbicara, baik antar pribadi maupun di depan publik, sambil melontarkan berbagai gagasan dan ide-ide, merupakan kemampuannya yang cukup spesifik. Itu semua menyebabkan mereka bergairah.
Kelompok manusia bertipe "T", motivasi dasarnya adalah persahabatan serta rasa saling menghargai antar sesama. Mereka juga "extrovert", senang dan pandai bergaul. Akant tetapi, umumnya tidak mempunyai ambisi besar dalam hal mencapai prestasi apa pun. Semua dilaksanakan secara "biasa-biasa" saja. Pembawaan mereka tenang, kalem, dan ramah tamah. Karena sifat yang demikian, jarang orang "T" dinilai sombong atau angkuh, sebaliknya merekalah orang-orang yang dianggap mudah untuk diajak berkonsultasi atau berdiskusi, terutama sebagian di antaranya yang dianggap berotak encer.Berbeda dengan tipe "D", kelompok tenang ini kurang menyukai tanggung jawab dan tantangan yang bervariasi. Condong untuk berspesialisasi, guna membatasi ruang lingkup tanggung jawab pada area tertentu saja. Sebagai extrovert, orang "T" juga senang bergabung dalam kelompok-kelompok orang banyak, berpartisipasi sebagai anggota. Dalam bekerja, lebih menyukai hadir dalam sistem yang sudah mapan, dimana segala sesuatunya sudah baku dan memiliki panduan-panduan yang jelas.Karena kurang menyenangi tantangan, dengan sendirinya mereka juga kurang berani mengambil risiko-risiko besar, sehingga condong memilih lingkungan yang aman. Bila ditempatkan ke dalam lingkungan baru yang masih asing, butuh waktu untuk menyesuaikan diri. Berusaha bertahan untuk selalu berada pada lingkungan yang sudah dikenalnya dengan baik. Bagi orang-orang "T", untuk dapat mencapai sesuatu, diperlukan penjelasan yang sejelas-jelasnya tentang sasaran yang hendak dicapai, sekaligus apa peran mereka dalam kerangka tugas.
Terakhir pada kuadran keempat, kita temui orang-orang dari kalangan "Konvensional". Orang tipe "K" biasanya bekerja dengan acuan ketelitian, hasil yang benar dan sempurna menurut kaidah-kaidah yang sudah baku, serta kualitas tinggi. Mereka termasuk "introvert", kurang peduli dengan lingkungan sosialnya, sehingga condong membatasi diri dalam berhubungan dengan manusia lain.Sebagai kompensasi, mereka umumnya sangat teliti dalam pekerjaan, perfeksionis, selalu mengacu pada kesempurnaan hasil akhir. Akan tetapi, karena terlalu telitinya, sering terjadi mereka kurang memperhatikan batas waktu, berharap adanya tuntunan yang jelas langkah demi langkah, serta kadang-kadang butuh dukungan menyeluruh.Seperti tipe "T", orang-orang konvensional ini juga mendambakan lingkungan yang aman-aman saja. Bisa bekerja dalam kelompok, dengan basis pemikiran bahwa risiko yang dihadapi akan bisa ditekan sekecil mungkin, dan ditanggung bersama.Karena "introvert"nya, mereka sering mengharapkan mendapat tugas-tugas yang bisa "menenggelamkan" mereka ke dalam keasyikan bekerja. Oleh karenanya, pekerjaan-pekerjaan yang sesuai adalah jenis-jenis yang membutuhkan keakuratan tinggi, atau bidang-bidang penelitian.
Dalam hubungannya dengan pemilihan bidang usaha yang sesuai dengan masing-masing pembawaan di atas, dapat kita lihat bahwa terdapat 4 kuadran yang merupakan hasil kombinasi dan interaksi dari sifat-sifat bawaan tersebut. Perhatikan gambar 2.Kalau kita tarik kesimpulan dari sumbu vetikal, maka terlihat bahwa orang-orang yang termasuk "extrovert" lebih sesuai untuk memilih bidang-bidang yang memungkinkannya bertemu dengan orang banyak. Di dunia industri, mereka bisa banyak berperan dalam jalur-jalur distribusi. Sebaliknya, bagi kelompok "introvert", akan lebih cocok bila bergerak dalam kegiatan produksi. Sesuaikah Jenis Usaha Anda Dengan Tipe Kepribadian Anda? (Bagian 2)Dari sumbu horisontal, untuk mereka yang dominan, akan lebih pas kalau menggeluti bidang-bidang usaha yang akan menempatkan dirinya pada posisi mental yang lebih tinggi dari orang lain, sehingga "naluri dominasi"nya akan tersalur dengan baik. Di ujung yang berlawanan, terdapat kelompok orang-orang yang "dedikatif". Mereka ini justru lebih sesuai bila bergerak dalam bidang-bidang yang lebih bersifat "melayani" orang lain.
Pada kuadran I akan kita dapati orang-orang yang kecenderungan bisnisnya dipengaruhi oleh sifat yang mendominasi, serta pembawaan yang introvert. Maka pada daerah ini akan kita temui kelompok wiraswastawan yang menonjol dalam hal kreativitas. Kita sebut kuadran I sebagai "daerah kreatif". Kuadran II ditempati oleh mereka yang perilakunya dipengaruhi oleh sifat yang mendominasi, serta pembawaan yang extrovert. Maka pada daerah ini akan kita jumpai kelompok wiraswastawan yang lebih cenderung memberikan konsultasi dan pengarahan. Kuadran II kita sebut sebagai "daerah konsultatif"Kuadran III merupakan tempat orang-orang yang perilakunya dipengaruhi oleh sifat yang condong melayani, terkombinasi dengan pembawaan "extrovert". Kelompok ini lebih cenderung memberikan pelayanan kepada orang lain, menyukai persahabatan yang tulus, dan tidak berusaha mempengaruhi orang lain. Kuadran III kita namakan sebagai "daerah servis (pelayanan)".
Terakhir, kuadran IV, adalah tempatnya orang-orang yang sifatnya condong memberikan layanan, tapi pembawaannya tertutup, alias "introvert". Kesukaannya lebih kepada hal-hal yang rinci, mengupas masalah-masalah yang ruwet. Oleh sebab itu, kuadran IV bisa disebut sebagai "daerah analitis".Sekarang mari kita kaji, dari ke-4 tipe manusia di atas, jenis usaha apa saja yang kira-kira sesuai untuk dijalankan oleh mereka masing-masing.· Orang Dominan, Kelompok Kreatif : Terdiri diri orang-orang yang karena kreativitasnya, sangat mendambakan kebebasan. Dalam bekerja, mereka berorientasi pada pencapaian hasil akhir yang baik. Biasa bekerja sendiri, tidak banyak bicara. Jadi, mereka tergolong pada orang-orang yang "tidak pintar ngomong" (seperti telah disinggung pada bagian awal artikel ini). Karena sifatnya dominan, dalam berwiraswasta seyogyanya lebih memilih bidang-bidang yang tidak perlu banyak berhubungan dengan orang lain guna "lobi-melobi", karena tugas itu tidak cocok dengan temperamennya. Mereka juga termasuk introvert, oleh sebab itu, lebih baik bergerak dalam bidang produksi, menghasilkan produk-produk tertentu. Di sini, semua ambisi, kebebasan berkreasi serta gagasan-gagasan inovasi bisa terlampiaskan. Bagi orang-orang dari kalangan menengah ke atas, bisa memulai bisnis dengan mendirikan industri-industri besar. Tapi, bagi kalangan menengah kebawah, bisa mencoba industri-industri rumah atau kerajinan.· Orang Popularian, Kelompok Konsultatif :Orang-orang dari kelompok ini bersifat dominatif dan, karena berpembawaan extrovert, mereka menyukai pergaulan, senang bertemu dengan publik. Pandai bicara. Meski demikian, mereka selalu cenderung mempengaruhi orang lain. Senang popularitas. Positifnya, kebanyakan dari mereka suka membantu dan menolong. Oleh karena itu, orang-orang konsultatif lebih sesuai dalam bidang-bidang usaha yang bersifat mengarahkan atau memberi instruksi. Contohnya, jadi konsultan, membuka kursus, menjadi pelatih olahraga. Sebagai extrovert, mereka juga baik dalam bidang-bidang distribusi, sales dan perdagangan.· Orang Tipe Tenang, Kelompok Servis/Pelayanan :Sesuai dengan namanya, kelompok ini lebih cocok dalam bidang-bidang yang memberikan layanan kepada pihak lain. Kelebihan orang servis adalah kemampuannya mengikuti keinginan-keinginan orang, yang dilayaninya dengan tulus. Jadi berlawanan dengan kelompok konsultatif yang justru berusaha mengendalikan orang lain.Bidang usaha layanan bisa bermacam-macam, mulai dari membuka bengkel otomotif, elektronik sampai berbagai usaha jasa lainnya.· Orang Konvensional, Kelompok Analitis :Sifat introvert terkombinasi dengan pembawaan yang dedikatif, membuat kelompok ini lebih sesuai dengan pekerjaan-pekerjaan yang bersifat "memecahkan problem" (problem solver). Cocok untuk membuka usaha seperti jasa terjemahan, reparasi atau akuntan publik. Tentu saja dengan catatan bahwa mereka harus menguasai ilmu pengetahuan yang sesuai.Guna memberikan familiaritas yang lebih baik tentang berbagai bidang usaha dalam hubungannya dengan tipe dan pembawaan manusia, dibawah ini kita lihat aneka kemungkinan pilihan yang bisa diambil, sesuai dengan kondisi dan situasi masing-masing orang yang berkepentingan.Bidang Usaha Kelompok KreatifSebagaimana diutarakan di atas, sebelum seseorang menerjunkan diri ke lapangan usaha, seyogyanya ia melakukan penilaian diri terlebih dahulu. Dengan demikian ia akan mengetahui termasuk kelompok manakah kira-kira dirinya itu. Apakah tergolong kelompok kreatif, konsultatif, servis ataukah analatis. Setelah itu, ada lagi yang harus diperiksa lebih jauh, yakni apakah dirinya memiliki sebuah keterampilan khusus, atau menguasai ilmu pengetahuan tertentu dan juga barangkali mempunyai hobi yang khas. Semua hal tersebut akan dapat menjadi modal yang berharga bagi kelanjutan perwujudan usaha.
Memproduksi sesuatu, adalah pilihan yang sesuai untuk orang-orang yang "introvert-dominan". Untuk itu, bidang produksi menyediakan alternatif yang tak terbatas dalam hal komoditas yang akan dibuat. Namun, tetap harus diingat bahwasanya membuat suatu produk harus terlebih dahulu dipastikan tentang kemungkinan pemasarannya. Produk bisa menjadi "sellable" (bisa dijual) atau "marketable" (bisa dipasarkan), bila nyata-nyata ada pihak-pihak yang membutuhkannya. Sebuah usaha akan menjadi sia-sia bila produknya tidak ada yang membeli. Contoh-contoh bidang usaha dalam sektor produksi, antara lain adalah :
(1) Bidang Makanan/Minuman : Bidang ini sangat bervariasi dan bisa diwujudkan dalam berbagai tingkatan sesuai dengan tingkat lapisan masyarakat yang akan dituju. Misalnya, kita bisa mendirikan warung makan untuk kalangan menengah ke bawah, atau bahkan restoran mewah untuk kalangan atas, bila modalnya ada. Bisnis makanan dalam bentuk rumah makan atau warung, merupakan salah satu bentuk usaha yang sangat menguntungkan, karena tingkat keuntungannya termasuk besar, bisa mencapai 50% lebih, bahkan dalam kasus-kasus tertentu dapat melebihi 100%. Keunggulan bidang makanan sudah dibuktikan oleh kalangan Warung Tegal (warteg) serta restoran Padang.
(2) Bentuk-bentuk lain dari bisnis makanan adalah usaha catering, yang meliputi nasi rantangan konsumsi karyawan kantor, pesta dan lain-lain, kemudian produksi kue-kue, makanan kecil, minuman segar dan es krim, roti (bakery) dan roti keliling, makanan asongan, aneka manisan dan permen, dan berbagai hidangan lainnya. Pakan ternak juga bisa digolongkan dalam jenis usaha makanan. Saya melihat yang masih berpeluang untuk maju adalah jenis-jenis makanan khas daerah, karena masih teramat banyak jenisnya yang belum diketengahkan dan dipromosikan pada masyarakat nasional. Kita bisa melihat dari sekian jumlah daerah dan suku di Indonesia, baru satu dua makanannya yang telah dikenal luas dan digemari sebagai hidangan lezat. Beberapa diantaranya adalah Sate Madura, Masakan Padang, Pempek Palembang, Gudeg Jogya, Rica-rica dan Bubur Manado, Masakan Sunda, Es Palubutung dari Sulsel, Sagu Ambon, Asinan Bogor dan beberapa lainnya.
(3) Kerajinan :Selain untuk kebutuhan dalam negeri, barang kerajinan juga unggul dalam hal ekspor. Calon wiraswastawan di daerah-daerah sebaiknya memikirkan atau menggali kembali potensi daerahnya yang mungkin saja memiliki jenis-jenis kerajinan yang bisa diketengahkan ke lingkup nasional maupun internasional.
(4) L o g a m : Sentra industri logam di Tegal adalah contoh yang baik, bagaimana kretivitas bisa diwujudkan dalam bidang industri. Sekarang ini masih dibutuhkan terobosan-terobosan baru yang memungkinkan mutu produk logam tersebut bisa lebih ditingkatkan.
(5) Pertanian dan Agrobisnis : Bidang yang merupakan sumber daya paling fundamental dari bangsa Indonesia. Dalam masa krisis, bidang ini telah membuktikan diri sebagai bidang usaha yang tidak saja kebal krisis, tapi bahkan menangguk keuntungan berlipat ganda.
(6) Peternakan dan Tambak : Ini juga sangat berpotensi ekspor, sehingga patut diperhitungkan sebagai jalur bisnis kebal krisis. Udang adalah salah satu komoditas primadonanya.
(7) Rajutan, Bordir, Renda : Meski termasuk kelompok kerajinan, bidang ini bisa diberi perhatian ekstra, karena lebih condong melibatkan tenaga-tenaga wanita. Penulis sangat berharap, jumlah wiraswastawati di Indonesia bisa terus bertambah.
(8) S a b l o n :Kaum kreatif bisa melampiaskan kreativitasnya lewat seni menyablon. Penerapan sablon amat luas, bisa untuk pakaian seperti baju kaus, barang-barang hiasan, peralatan kantor dan lain-lain. Untuk menguasai keterampilan sablon, banyak tersedia kursus-kursus persablonan di banyak kota besar. Biayanya relatif tidak mahal, sehingga patut dijadikan sebuah alternatif unggulan bagi yang ingin terjun ke dunia wiraswasta. Sudah terbukti, dengan sablon banyak pengusaha kecil bisa berkembang dengan baik. Syaratnya adalah penjiwaan, karena sablon berhubungan erat dengan seni dan keindahan.
(9) Penerbitan : Menjadi penerbit, bisa juga dimulai secara kecil-kecilan lebih dahulu. Kalau sang pengusaha juga mampu menulis, usaha ini akan lebih ideal lagi. Pada beberapa kejadian, ada pengusaha kecil yang memulai penerbitannya dengan cara pesanan melalui kotak pos atau internet, sehingga tidak perlu mencetak dengan jumlah besar-besaran sebagaimana dilakukan oleh penerbit yang sudah mapan.
(10) Mainan anak-anak : Komoditas ini ternyata cukup menjanjikan, karena jumlah anak-anak amat banyak. Memproduksi mainan anak tidak perlu yang mewah dan mahal. Di lingkungan sekolah banyak pedagang-pedagang kecil yang menjual mainan-mainan sederhana buatan sendiri (pekerjaan tangan), ternyata amat laris. Anak kecil tidak banyak memperhatikan segi kemewahan, yang penting adalah ide yang sejalan dengan dunia khayal anak-anak. Ada juga beberapa pengusaha kecil yang memproduksi mainan anak sederhana terbat dari tripleks, dan bisa dipasarkan kepada berbagai sekolah taman kanak-kanak.
(11) Kartu ucapan : Meski kelihatan sepele, ternyata kartu ucapan memiliki harapan masa depan yang tidak sepele. Dengan kreativitas tinggi, berbagai merek kartu ucapan seperti HallMark dan lain-lain mampu mengeruk keuntungan besar. Pengusaha Indonesia yang berhasil di bidang ini antara lain adalah produsen kartu ucapan merek Harvest. Mereka yang kreatif di bidang ini, paling tidak bisa memenuhi nafkahnya hanya dengan bersenjatakan pena dan kertas atau amplop, sebagaimana yang dilakukan para pionir di bilangan Pasar Baru Jakarta.
(12) Karya Intelektual :Perwujudan paling murni dari ungkapan bahwa kewiraswastaan merupakan "kerja otak" dan bukan "kerja otot", adalah dalam bentuk Karya Intelektual (KI). Yang dimaksud dengan KI adalah produk-produk yang sepenuhnya merupakan hasil kerja kecerdasan seseorang. Yang termasuk dalam golongan ini adalah : pembuatan perangkat lunak (software) komputer, penulisan buku baik sastra, teknik dan lain-lain, skenario film, sinetron, drama dan lain sebagainya, paket pelajaran tambahan, penciptaan lagu-lagu, karya-karya seni dan lain-lain semacamnya. Sukses dalam KI, akan memungkinkan seseorang menjadi sangat kaya dan sangat terkenal pula. Contohnya adalah Bill Gates, yang berhasil dalam bisnis perangkat lunak komputer, dan sekarang menjadi salah seorang terkaya di dunia.
Sesuaikah Jenis Usaha Anda Dengan Tipe Kepribadian Anda? (Bagian 3 )
Bidang Usaha Kelompok KonsultatifUntuk kalangan yang "extrovert dominan", bidang usaha yang lebih sesuai adalah bidang-bidang yang memungkinkannya berada pada posisi pemegang kendali. Maka, di bawah ini adalah jenis-jenis usaha untuk kalangan mereka :
1) Jasa Konsultasi : Dengan menjadi konsultan, orang-orang dari kelompok ini akan bisa menyalurkan pembawaannya yang dominatif, langsung pada klien. Di sini hubungan kerja antara wiraswastawan (konsultan) dengan pelanggan (klien)nya akan sangat "klop", karena pihak klien sebagai pihak yang membutuhkan secara otomatis akan selalu mengikuti apa yang dinasehatkan, diusulkan atau diinstruksikan oleh sang konsultan. Perlu diperhatikan bahwa untuk menjadi konsultan, seseorang harus mempunyai pengetahuan atau keahlian tertentu yang dibutuhkan oleh pelanggannya. Ada banyak bidang konsultansi, antara lain konsultan pajak, konsultan keuangan. konsultan pemasaran, konsultan konstruksi, konsultan komputer dan lain-lain.
2) Kursus-kursus : Alternatif lain bagi kaum konsultatif adalah membuka usaha dalam bidang pendidikan dan pelatihan. Kursus-kursus keterampilan dan ketenagakerjaan amat diperlukan di Indonesia, karena sebagai negara berkembang, tenaga-tenaga ahli atau terampil merupakan syarat mutlak pelaksanaan pembangunan. Sampai saat ini kursus yang diselenggarakan oleh masyarakat tumbuh dengan suburnya, namun kebutuhan untuk itu masih tetap kurang. Maka, boleh dikatakan orang-orang konsultatif sangat berpeluang di bidang ini. Jenis kursus yang termasuk populer dan terus dibutuhkan antara lain adalah Bahasa-bahasa Asing seperti Inggris, Jepang, Mandarin, Keterampilan seperti Sablon, Mengetik, Komputer, Menjahit, Memasak dan sebagainya. Begitu juga dengan kursus Manajemen.
3) Pusat Kebugaran dan Pelatih Olahraga : Bagi mereka yang menyenangi dan menguasai teknik-teknik berolahraga dapat menggunakan kepandaiannya itu untuk berwiraswasta. Antara lain dengan menjadi pelatih olahraga atau membuka pusat kebugaran (fitness center). Banyak sudah figur sukses dalam bidang ini yang kita ketahui, seperti misalnya para pelatih sepak bola yang direkrut PSSI (Persatuan Sepakbola Seluruh Indonesia) dibayar jutaan rupiah setiap bulannya. Para pelatih aerobik kelas "biasa" rata-rata dibayar sekitar Rp. 500.000,- untuk sekali acara senam pagi selama 1 - 1,5 jam.
4) Bidang Perdagangan : Ini merupakan bidang yang secara meluas digandrungi oleh pengusaha-pengusaha dengan temperamen "dominan extrovert". Pengertian dagang yang paling murni adalah menjual barang yang diperoleh dari pihak lain. Dengan demikian, perdagangan lebih condong menyerupai jaringan distribusi barang. Untuk menjalankan perdagangan, bisa ditempuh bermacam-macam jalur, misalnya sebagai distributor, sub-distributor, dealer, agen, reseller (penjual) atau retailer (pengecer). Kebanyakan orang tipe konsultatif sukses dalam perdagangan, karena mereka memang memiliki kelebihan alamiah, berupa kesenangan bergaul dengan banyak orang, pintar bicara dan selalu berkeinginan mempengaruhi pihak lain. Sifat-sifat seperti itu sangat mendukung dalam kewiraniagaan (salesmanship). Perdagangan sebagai jalur distribusi tidak hanya mencakup perdagangan besar saja dengan sebutan-sebutan seperti tertera diatas, tapi juga termasuk pedagang-pedagang kecil gurem. Misalnya, pedagang asongan yang menawarkan "rokok ketengan/eceran" adalah pedagang kecil pendistribusi rokok, sedangkan anak-anak pejaja koran berfungsi sebagai pedagang kecil penyalur surat kabar. Mereka semua termasuk instrumen perdagangan yang diperhitungkan.
Bidang Usaha Kelompok PelayananKelompok ini termasuk "extrovert", namun polaritasnya berbeda dengan kelompok konsultatif. Kalau yang disebut terakhir lebih condong mendominasi, maka kelompok servis conderung melayani atau mengikuti keinginan-keinginan orang lain. Oleh sebab itu, bidang-bidang yang sesuai dengan mereka antara lain adalah :
1) Biro Jasa : Banyak jenis biro jasa, misalnya jasa pengurusan surat-surat seperti perpanjangan SIM (Surat Izin Mengemudi), STNK (Surat Tanda Nomor Kendaraan), SIUP (Surat Izin usaha Perdagangan) dan lain-lain. Ada lagi jasa penarikan kendaraan mogok, sekolah mengemudi dan sejenisnya.
2) Biro Teknik : Ini juga bidang usaha jasa, karena melayani khalayak masyarakat yang mengalami kesulitan dengan peralatan-peralatan teknik seperti pompa air listrik, kompor listrik, kulkas, AC (air conditioner) serta instalasi listrik. Orang dari golongan "servis" sangat unggul dalam bidang tersebut.
3) Jasa Pengetikan : Amat populer dewasa ini, karena jumlah kantor dan perguruan tinggi sudah amat banyak. Mahasiswa yang sedang dalam tugas membuat skripsi merupakan pelanggan utama dari jasa pengetikan semacam itu. Untuk mendirikan, harus diperhatikan lokasi usaha yang strategis terhadap pusat-pusat keberadaan pelanggan seperti kampus dan kantor.
4) Foto Kopi dan Penjilidan : Bidang yang masih satu rumpun dengan jasa pengetikan. Namun, jasa ini memerlukan investasi yang lebih besar dari pada jasa pengetikan, sehingga perlu dipikirkan bagaimana mencari solusi yang tepat untuk mengatasi persoalan modal. Alternatif dapat diambil misalnya dengan mencari mitra penyandang dana, ditambah dukungan distributor. Perlu diketahui bahwa mesin foto kopi bisa disewa untuk keperluan tersebut.
5) Sablon Pesanan : Bidang yang sama dengan bidang persablonan pada kelompok kreatif. Disini, lebih ditekankan pada sistem pesanan, sehingga pelanggan memiliki kebebasan untuk menentukan rancangan dan motif yang dikehendaki. Dalam keadaan bagaimana pun, harus diusahakan agar industrti sablon bisa melayani pesanan disamping produksi standar.
6) Perbengkelan : Meski pada prinsipnya sama, perbengkelan bisa mencakup berbagai bidang yang berbeda. Misalnya, ada bengkel otomotif, yang melayani perbaikan kendaraan roda empat atau roda dua. Ada juga bengkel elektronik, untuk menangani pelayanan pemeliharaan dan perbaikan alat-alat elektronik seperti TV, radio, stereo set, mini compo dan lain-lain, alat-alat elektrik seperti AC, lemari es dan sebagainya. Pada masa sekarang, pemakaian alat-alat tersebut sudah sangat umum, sehingga bidang ini pun cukup menjanjikan. Pilihlah bidang yang disukai dan perdalamlah pengetahuan di bidang bersangkutan.
7) Kontraktor dan Jasa Perbaikan Bangunan : Di kota-kota besar terutama, sekarang ini banyak pemilik rumah yang menghendaki pemeliharaan tempat tinggalnya bisa dilayani dengan cepat dan baik. Begitu juga dengan kantor. Oleh karena itu, peluang dalam bidang ini, cukup bisa diharapkan. Permintaan bisa amat bervariasi dari yang ringan-ringan seperti perbaikan atap yang bocor, pengecatan, sampai yang besar seperti renovasi total atau mendirikan bangunan baru.
8) Rumah Kost : Untuk kebutuhan karyawan atau mahasiswa, di kota-kota besar permintaan jasa akomodasi dalam bentuk rumah kost atau kontrakan cukup tinggi. Peluang ini perlu ditangkap, karena masa depannya cerah. Satu kamar berukuran 15 m2 , bisa dikenai biaya sebesar Rp.1.000.000,- per bulan.
9) Salon Kecantikan : Bidang ini tetap menjadi pilihan favorit bagi kaum wanita, karena dari masa ke masa, kecantikan merupakan kebutuhan pokok kaum hawa. Mendirikan usaha ini pun relatif mudah, karena tidak memerlukan tempat yang terlalu besar, bisa mengambil tempat di lokasi mana pun baik di daerah bisnis maupun di daerah tempat tinggal. Untuk mendalami bidang ini, sekolah-sekolah atau kursus kecantikan banyak sekali dan mudah ditemui, terutama di perkotaan.
10) Makelar: Makelar adalah bisnis mediator atau perantara antara penjual dan peminat. Dari situ, makelar bisa mendapat fee (uang jasa) yang lumayan. Makelar bisa bergerak untuk bermacam-macam komoditas, bisa tanah, rumah, kendaraan, surat berharga dan lain sebagainya. Untuk menggeluti bidang ini, diperlukan keuletan dan kerajinan yang luar biasa, tetapi sekali berhasil dalam satu penjualan tanah atau rumah, biasanya pendapatannya besar. Sebagai usaha bercirikan "modal dengkul", "makelarisme" perlu dipertimbangkan sebagai langkah awal berwirausaha.
Bidang Usaha Kelompok AnalitisKelompok analitis sebenarnya kurang menyukai bertemu orang banyak, apalagi dalam frekuensi yang sering. Maka dari itu, mereka perlu berusaha di bidang-bidang yang tidak mengharuskannya terlalu banyak "bersosialisasi", tapi cukup banyak memberi kesempatan untuk berkonsentrasi penuh memecahkan masalah-masalah sebagai dasar bisnisnya. Ingat, bahwa mereka adalah "pemecah masalah" (problem solver).
Bidang semacam itu antara lain adalah :
1) Jasa Terjemahan : Bisnis ini cukup memberi tantangan kepada para analitis, dengan intensitas yang memadai. Terjemahan banyak diperlukan oleh institusi-institusi yang mempunyai hubungan erat dengan dokumen-dokumen, data-data, atau aspek bisnis berlingkup internasional. Fee yang bisa diperoleh tergolong cukup besar, sehingga tidak menimbulkan kekhawatiran dalam hal menanggulangi biaya-biaya operasional usaha.
2) Jasa Reparasi Perangkat Elektronik dan Teknologi Informasi : Dua bidang yang memberikan tantangan analitik yang besar adalah dunia elektronik serta Teknologi Informasi. Bagi wirausahawan yang mempunyai kecenderungan sifat yang "introvert" sekaligus berpembawaan dedikatif, "menenggelamkan diri" dalam keruwetan permasalahan sistem canggih, merupakan kebahagiaan tersendiri. Maka, bidang ini juga bisa dijadikan alternatif pemilihan bidang usaha. Tentu saja dengan catatan bahwa teknologi yang diperlukan harus dikuasai.
3) Karya Intelektual : Bidang yang sama dengan yang kita dapatkan pada kaum kreatif. Ini dapat terjadi karena kedua kelompok itu mempunyai komponen pembawaan yang sama, yaitu "introvert".
4) Perancang Busana :Ini adalah aktivitas mereka mereka yang benar-benar ingin ber-"solo karir". Produk-produk yang dihasilkan biasanya amat tergantung dari kepiawaian pengusaha bersangkutan. Mereka yang berhasil, biasanya selain menjadi mapan dalam hal ekonomi, juga menjadi terkenal.
5) Binatu/Laundry : Bidang ini sangat menonjol bagi keperluan orang-orang perkotaan. Berbagai perkembangan teknik dalam hal layanan binatu sudah semakin canggih, sehingga perlu diwaspadai dan dipelajari.
6) Jasa Penjahitan : Baik diperkotaan mau pun di pedesaan yang cukup maju, menjalankan usaha penjahitan cukup menjanjikan masa depan yang baik. Apalagi kalau sekedar memenuhi nafkah sehari-hari. Yang perlu dijaga adalah masalah ketepatan waktu serta mutu pekerjaan yang baik.
Perlu diketahui bahwa apa yang dipaparkan diatas hanyalah contoh-contoh atau referensi belaka. Masih banyak bidang lain yang belum dicantumkan disini, yang mungkin saja lebih cocok pada kelompok-kelompok dengan pembawaan tertentu. Selain itu, juga perlu dimengerti bahwa banyak bidang-bidang yang sesuai untuk orang-orang tipe tertentu, ternyata juga bisa cocok untuk kelompok lainnya. Ini disebabkan adanya kesamaan komponen pendukung sifat pada orang-orang yang tipenya tidak persis sama. Misalnya, orang kreatif memiliki komponen "introvert", yang juga dimiliki oleh kaum analitis. Begitu juga komponen "dominan" sama-sama dipunyai baik oleh kelompok kreatif mau pun oleh kaum konsultatif.
Rusman HakimPengamat Kewirausahaan
Mobile: +62 21 816.144.2792

Wednesday, November 22, 2006

HOBI YANG MENGHASILKAN UANG

Sudah bukan jamannya menggantungkan diri gaji dan perusahaan tempat bekerja, sebab masih tingginya risiko PHK yang menyebabkan Anda kehilangan pekerjaan. Jika Anda mempunyai hobi yang digilai, mengapa tidak mencoba mendapatkan penghasilan tambahan dari hobi tersebut. Daripada terus menerus dituding sebagai salah satu biang pemborosan, marilah kita mengusahakan hobi kita agar menjadi mesin uang.
Kegilaan orang akan hobi yang ditekuninya, dapat dengan mudah kita jumpai dalam kehidupan sehari-hari. Misalnya seseorang yang hobi berburu barang-barang antik bisa menghabiskan banyak waktu, tenaga dan bahkan uang sampai ratusan juta rupiah yang bagi orang lain seperti sia-sia. Bandingkan dengan tingkah orang yang yang hobi dengan burung perkutut atau ikan Louhan ?
Mungkin terasa tidak masuk akal bagi orang lain. Hobi boleh dibilang sebagai sebuah pemenuhan kebutuhan batiniah untuk melepaskan diri dari kejenuhan dan kelelahan karena rutinitas harian dalam mencari nafkah. Karena sifatnya itulah, yang berlaku dalam soal hobi adalah kesenangan yang tak terhingga. Ketika hobi diboyong ke dalam wilayah bisnis, meski perhitungan laba-rugi, kelayakan usaha, peluang dan lain sebagainya juga dijadikan pertimbangan tapi instinglah yang lebih dominan. Ungkapan yang sering terdengar, nggak masalah untung atau buntung yang penting hobi !
Bekerja Dengan Senang Hati
Tapi itulah sebabnya mengapa kegiatan usaha yang berawal dari hobi seringkali berhasil dengan baik. Dimana salah satu kunci untuk memulai usaha yang sukses adalah bekerja dengan senang hati, seolah kita sedang mengerjakan hobi sampai-sampai lupa waktu dan tidak kenal lelah. Yang pasti ada kesungguhan baik dalam memulai usaha hingga mengembangkannya dan melakukan sesuatu dengan landasan cinta, bukan keterpaksaan agar kita bekerja untuk hasil yang terbaik dan penuh keikhlasan
Tidak heran jika banyak orang memulai suatu bisnis adalah karena kegemaran atau hobi. Bayangan mendapatkan penghasilan besar dengan melakukan pekerjaan yang disukai memang menjadi keinginan banyak orang. Sebab biasanya orang memang melakukan hal yang terbaik untuk kegiatan yang disukainya, sehingga tidak heran jika hasilnya juga maksimal. Hobi yang dilakukan dengan tujuan awal melepaskan stress, kemudian malah menghasilkan uang tentunya menjadi bonus yang sangat menyenangkan. Langkah Awal Mengubah Hobi Menjadi BisnisSatu hal yang berat dalam melakukan usaha ialah melakukan langkah pertama. Meski demikian, langkah pertama tetap saja melakukannya. Bukankah hal-hal besar itu berawal dari yang kecil, dan langkah seribu, tidak mungkin terjadi tanpa langkah pertama. Apa saja yang harus dilakukan agar hobi kita bisa menghasilkan uang, berikut ini adalah caranya :
Luangkan waktu lebih banyak untuk menekuni hobi Anda, dan hasilkan hasil karya dengan kualitas yang lebih baik dan kuantitas yang lebih banyak. " Practise makes perfect " dengan terus berlatih maka kita akan menghasilkan karya yang semakin baik. Hasil karya yang berkualitas tentunya meningkatkan nilai jualnya, apalagi jika banyak orang yang menekuni hobi yang sama, tentunya produk Anda harus mempunyai nilai lebih dibandingkan produk sejenis. Paling tidak hasil karya Anda mampu bersaing di pasaran. Masalahnya ketika hobi yang biasanya dilakukan diwaktu luang jika akhirnya menjadi rutinitas, maka si pehobi cenderung menjadi malas melakukannya. Hal ini secara alamiah memang terjadi, namun itulah konsekuensi dari perubahan hobi menjadi bisnis. Supaya Anda tidak tersiksa dalam proses perubahan ini, maka lakukanlah secara perlahan atau bertahap, jangan memaksakan diri untuk meluangkan waktu jauh lebih banyak, tetapi sedikit lebih banyak saja dari waktu ke waktu. Misalnya jika bisanya Anda membuat hasil karya sebulan sekali, maka jangan memaksa diri untuk membuat hasil karya seminggu sekali. Tingkatkan produktifitas menjadi sebulan dua kali, kemudian jika sudah merasa nyaman dengan ritme kerja yang baru, jangan ragu-ragu untuk meningkatkan produktifitas setingkat lebih tinggi lagi.
Tambah terus pengetahuan Anda, bisa melalui kursus-kursus, seminar, atau pelatihan yang berhubungan dengan hobi Anda. Biasanya dalam kursus Anda akan mendapatkan semacam sertifikat yang nantinya bisa menaikkan prestise dan kepercayaan pelanggan, sehinggga meningkat daya jual hasil karya Anda.. Selain melalui kursus ada banyak cara yang lebih murah untuk menambah pengetahuan anda, dengan melalui buku, majalah, internet dan berbagai media informasi lainnya. Belajar langsung dari orang–orang yang sudah ahli atau sudah sukses menjalankan hobi tersebut. Mendapatkan mentor atau bergaul dengan orang yang mempunyai hobi sama juga bisa menjadi cara yang terbaik bagaimana menghasilkan karya yang terbaik dan kompetitif dari segi kulitas juga harga. Sebab yang terpenting dari sebuah hobi yang jadi bisnis adalah apakah orang mau membeli hasil karya yang Anda hasilkan, dan berapa orang mau membayar untuk itu.
Nah, dari mereka yang sudah berhasil di hobi yang jadi bisnis yang Anda minatilah Anda bisa mendapatkan informasi mengenai cara menjalankan bisnis tersebut dengan sukses. Lagipula dengan bergaul dengan mereka, hasil karya dan keterampilan anda selalu diukur kemajuanya oleh orang yang kompeten dibidangnya. Selain itu berada dalam lingkungan yang memiliki minat yang sama juga akan meningkatkan motivasi Anda dalam berbisnis. Jika ada perkumpulan dalam hobi Anda, usahakan untuk bergabung dan aktif. Beberapa hobi mempunyai perkumpulan untuk mewadahi orang-orang yang menggemari hobi yang sama. Ada banyak manfaat yang bisa Anda dapat dengan mengikuti perkumpulan, antara lain : mendapatkan perkembangan terbaru serta informasi-informasi mengenai hobi Anda yang mungkin bisa dimanfaatkan dalam mencari peluang, meningkatkan peluang mendapatkan calon pelanggan, memperoleh promosi gratis untuk usaha Anda, memperluas network. Tawarkan hasil karya Anda dari satu toko ke toko lain, dari satu orang ke orang lain. Tentu saja, anda diharapkan tak mudah patah semangat jika produk yang anda tawarkan di tolak. dan juga, jangan malu.
Dari pengalaman diketahui, orang-orang terdekat bisa menjadi konsumen awal. Cara ini, juga bisa membantu mengatasi kesulitan modal keuangan, karena mereka bisa diminta membayar dimuka, sebelum barang dibuat atau diantarkan Pada akhirnya semua kembali kepada pilihan kita masing-masing, sebab tidak semua orang beruntung memiliki hobi, atau memiliki hobi yang berpotensi menghasilkan uang. Banyak orang yang tertunda membuka usaha sebab masih bingung menentukan bidang usaha yang diminati. Tetapi bukan berarti jika tidak mempunyai hobi, kemudian tertutup kemungkinan membuka usaha, sebab banyak sumber ide bisnis lainnya yang bisa Anda lakukan. Kuncinya adalah apapun yang Anda pilih, cintailah ! Dengan melakukan pekerjaan yang dicintai, Anda seperti mempunyai layaknya hobi. Sebaliknya banyak juga orang yang sudah memiliki hobi, namun belum berminat mengubahnya menjadi bisnis yang menghasilkan uang. Mudah-mudah tulisan kali ini menambah wawasan Anda terhadap peluang dan potensi bisnis dari hobi.
Mike Rini
Perencana Keuangan