Sunday, August 17, 2008

Kibaran Perdana Sang Saka Merah-Putih


Ada perubahan yang cukup membuatku tersenyum-senyum malu pada perayaan HUT RI ke 63 di tahun 2008 ini. Itu disebabkan oleh bendera Merah-Putih yang terpasang di depan rumah. Aku mulai memasang Bendera Merah-Putih pada tanggal 10 Agustus kemarin. Tahukah Anda, ini adalah pertama kali aku memasang bendera kebangsaan di depan rumah semenjak aku dewasa.

Kalau dahulu ketika aku masih tinggal di rumah orang tua di Solo sengan otomatis ketika memasuki bulan Agustus, semua warga desa akan mengibarkan Sang Saka Merah Putih di depan rumah sepanjang jalan desa kami. Tak terkecuali pagar rumah pun di cat dengan warna merah putih. Tak ketinggalan jalan aspal di desa kami pun di cat warna putih di sepanjang kedua pinggiran jalan. Warna merah dan putih sangat dominan mewarnai desa kami. Tak hanya saat Hari Kemerdekaan saja kami memasang bendera merah-putih, bahkan hari-hari besar nasional lainnya pun tidak ketinggalan kami mengibarkan Sang Saka di depan rumah kami, seperti Hari Pahlawan, Hari Pendidikan Nasional, Hari Kebangkitan Nasional, Hari Sumpah Pemuda dll.

Dan kini ketika aku sudah dewasa dan berkeluarga semenjak tahun 2000 lalu, tak pernah barang sekalipun bendera merah putih itu terpasang di depan rumah kami. Ada tersungging rasa malu ketika aku mengikatkan tiang bendera pusaka itu pohon mengkudu yang tumbuh di depan rumah.

Aku tercenung, saat pahlawan bangsa dulu mengorbankan jiwa dan raganya untuk bisa mengibarkan Sang Saka. Tetapi aku dan mungkin ribuan bahkan jutaa warga bangsa ini yang hanya tinggal memasang tanpa ada sedikitpun keluar pengorbanan, enggan melakukannya.

Ini mungkin adalah potret kondisi nasionalisme kita sebagai warga yang ada pada titik nadir terbawah. Hanya untuk menghormati lambang-lambang kebangsaan saja kita enggan dan tidak perduli untuk melakukannya. Apatah lagi bila diminta untuk berkorban, baik harta, jiwa dan raga. Ini adalah gambaran bahwa kita mengaku sebagai warga bangsa ini, tapi perilaku kita tidak mencerminkan bahwa kita bangga dan mencintai bangsa ini. Apalah yang akan diharapkan kemajuan dan kedigdayaan bangsa ini akan tercapai sedang manusia-manusia yang hidup di dalamnya tidak berperilaku sebagai warga yang cinta akan negerinya. Yang ada malah manusia-manusia bermental tikus yang menggerogoti bangsa ini dari dalam. Musuh sebenar-benarnya musuh bangsa saat ini adalah diri kita sendiri yang bermental dan berperilaku seperti tikus itu tadi, dan bukan bangsa lain.

Wahai saudara sebangsa mari kita bertanya "Apa yang sudah kita berikan kepada bangsa ini? Bukan Apa yang telah negeri ini berikan kepada kita"
"Bangkitlah Bangsaku, Bangkitlah Negeriku"