Monday, May 12, 2008

Batam Harus Memperbaiki Infrastruktur dan Attitudeny untuk Menarik lebih Banyak Investor dan Wisatawan


Disamping keberhasilan Batam menempatkan diri sebagai kota industri, masih banyak hal-hal yang menjadi kendala sehingga kota Batam mengalami pasang surut dalam perjanan pembangunannya. Kota Batam di era kepemimpinan BJ Habibie sebagai ketua Otorita Batam mengalami perkembangan dan pembangunan yang luar bisa pesat. Dipicu dari posisi Batam yang sangat strategis dan berdekatan dengan kota negara perdagangan dunia, Singapura. Batam menempatkan dirinya sebagai daerah pendukung industri yang ada di Singapura. Berpijak dari hal itu maka BJ Habibie membangun Batam sebagai kawasan industri manufaktur. Batam diberikan hak istimewa sebagai kawasan Free Trade Zone, Sehingga barang yang keluar masuk Batam dari luar negeri bebas pajak. Hal ini dilakukan sebagai daya tarik bagi investor untuk menanamkan modalnya di Batam. Efek dari kebijakan itu memang sungguh luar biasa, Banyak investor dari luar negeri berbondong-bondong menanamkan modalnya di Batam dengan membuat pabrik dan memproduksi produknya di Batam. Sehingga bermunculanlah pembangunan kawasan industri di Batam dengan di awali oleh pembangunan Kawasan Industri Batamindo, dan diikuti oleh pembangunan kawasan-kawasan industri lainnya di seluruh wilayah di Batam baik kawasan industri manufaktur elektronik, industri berat maupun industri perkapalan.

Ada beberapa hal kendala yang dihadapi oleh Batam, Sebagai kota yang penduduknya adalah kaum urban dari berbagai daerah di seluruh Indonesia mengakibatkan kemajemukan kondisi sosial kemasyarakatannya. Dengan beraneka ragam suku dan etnik yang berdiam di Batam mengakibatkan terjadinya beberapa konflik antar suku di masa lalu. Hal ini sungguh sangat mengkhawatirkan. Tetapi kondisi ini bisa diatasi berkat dari kesadaran masyarakat dan usaha dari para pemuka masyarakat, pemerintah daerah dan aparat keamanan. Ini terbukti dalam kurun waktu 5-6 tahun terakhir tidak pernah ada lagi konflik yang melibatkan antar etnik yang ada di Batam.

Dari segi infrastruktur ada beberapa kendala yang sampai saat ini belum bisa diatasi, pertama ketersediaan sumber listrik. Dalam hal ini PLN sebagai penyuplai utama sumber listrik di Batam belum mampu mencukupi kebutuhan listrik di Batam. Sehingga beberapa kawasan industri harus membangun pembangkit listrik sendiri untuk menyuplai kebutuhan para tenant nya. Ternyata keterbatasan kemampuan PLN tidak hanya dari segi jaringannya saja tetapi ketidak lancaran suplai bahan bakar untuk mesisn-mesin pembangkitnya juga merupakan kendala yang sangat pelik. Pembangkit-pembangkit PLN yang menggunakan bahan bakar Gas, tidak mampu disuplai dengan lancar oleh Perusahaan Gas Negara. Ini yang mengakibatkan listrik di Batam sering "byar pet" alias mati lampu secara bergiliran. Ini merupakan problem yang sangat serius di Batam yang mempengaruhi investor untuk berpikir ulang bila mau menanamkan modalnya di Batam.

Infrastruktur Jalan di Batam pun tidak kurang memprihatinkannya. Kalau dilihat sejumlah jalan di Batam banyak yang rusak dan berlubang. Jangankan jalan kecil dilingkungan komplek pemukiman penduduk, sedangkan jalan utama yang merupakan wajah Batam yang pastinya dilihat oleh orang luar Batam pun banyak yang rusak. Bisa dilihat Jalan didepan Terminal Ferry Batam Center rusak dan berlubang, notabene jalan ini adalah jalan yang selalu dilalui investor, calon investor dan wisatawan yang keluar masuk Batam sudah disuguhi kondisi yang tidak menyenangkan dengan rusaknya jalan. Bagaimana Pemko Batam akan menyuguhkan kondisi yang menarik bagi Investor dan wisatawan, kalau baru saja menginjakan kakinya di tanah Batam sudah disuguhi jalan belubang di depan matanya? Kondisi ini hampir mirip dengan kondisi Jakarta ( meski tidak terlalu parah) yang Bandar Soekarno-Hatta tidak bisa diakses oleh kendaraan karen Jalan Tol Sedyatmo terendam banjir.

Birokrasi pemerintahan tak kalah carut-marutnya, biaya ekonomi tinggi yang disebabkan birokrasi perijinan yang berbelit-belit mengakibatkan tersendat-sendatnya turunnya ijin kepada investor yang ingin menanamkan modalnya di Batam. Walaupun demikian Pemko Batam sudah mulai melakuka perbaikan dibidang birokrasi perijinan dalam satu atap di gedung Sumatera Promotion Center (SPC).

Tetapi attitude para pegawai pemerintahan yang berhadapan dengan pelayanan publik masih jauh dari yang diharapkan. Sikap melayani, menghormati dan menghargai masyarakat yang meminta pelayanan kepada dinas-dinas pemerintahan masih belum dilayani dengan semestinya. Sepertinya masyarakat sangat sulit mendapatkan senyum dan sikap ramah dari aparatur pemerintahan ini saat mendapatkan pelayanan dari mereka. Padahal sikap ramah, dengan senyuman sangat diharapkan oleh masyarakat agar meraas dihargai oleh aparatur pemerintahan yang digaji dari uang rakyat. Alih-alih mendapatkan senyuman atau tegur sapa ramah, yang didapatkan malah perkataan sinis dan judes, tak jarang malah membentak-bentak. Bagaimana investor dan wisatawan akan merasa nyaman, kalau pelayanan terhadap masyarakat sendiri saja tidak ramah. Apatah terhadap warga asing.

Thank's & Rgds,

Wahyudi, Batam 12 May 2008. http//www.wahyudi-batam.blogspot.com
(Terinspirasi saat motorku terperosok di jalan berlubang di depan terminal Ferry Batam Center, dibentak-bentak aparat imigrasi saat mengurus paspor,sudah gitu mati listrik pula, masa' Gd pemerintahan mati lampu!!!)

No comments: